Ketika Cinta Menjadi Penjara Waktu

Opini, Artikel, Sastra

Ulasan trilogi “Memanah Rajawali”

*) Heri Isnaini

Ada orang yang kehilangan seseorang lalu belajar melupakan.

Ada pula orang yang kehilangan seseorang dan memilih hidup bersama kehilangan itu.

Tokoh kakek aneh dalam bagian awal Kembalinya Pendekar Rajawali termasuk golongan kedua. Empat puluh tahun. Bukan empat hari. Bukan empat bulan. Melainkan empat puluh tahun.

Selama empat puluh tahun ia hidup dengan sebuah janji yang tidak pernah selesai. Ia percaya suatu hari akan bertemu kembali dengan orang yang dicintainya. Ketika mengetahui bahwa orang itu telah meninggal, seluruh dunia yang dibangunnya runtuh seketika.

Dalam sastra, peristiwa seperti ini disebut sebagai trauma ingatan. Tubuh seseorang mungkin berada di masa kini. Tetapi jiwanya terjebak di masa lalu. Kakek itu sesungguhnya tidak sedang mencari Liok Tian-goan atau Ho Wan-kun. Ia sedang mencari dirinya sendiri yang tertinggal empat puluh tahun silam.

Biasanya kuburan adalah tempat perpisahan. Namun dalam sastra, kuburan sering kali menjadi tempat kembalinya masa lalu. Ketika si kakek berdiri di depan nisan Liok Tian-goan dan Ho Wan-kun, ia tidak melihat batu. Ia melihat kenangan. Batu nisan berubah menjadi bayangan seorang gadis cantik dan seorang pemuda tampan.

Ini bukan sekadar halusinasi. Ini adalah cara sastra menggambarkan kerja ingatan. Ingatan tidak pernah menyimpan orang sebagaimana adanya. Ingatan menyimpan orang sebagaimana kita ingin mengingatnya. Sebab itu,, yang dilihat si kakek bukan jenazah. Yang dilihatnya adalah cinta yang belum selesai.

Banyak pembaca melihat tindakan menggali kuburan sebagai kegilaan. Saya melihatnya sebagai simbol yang lebih dalam. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering melakukan hal yang sama. Ketika kehilangan seseorang, kita membuka kembali surat-surat lama. Kita membaca ulang pesan-pesan lama. Kita memandangi foto-foto lama.

Baca Juga :  DI PINGGANG TAMAN CINTAMANIS

Kita menggali kembali masa lalu. Persis seperti si kakek menggali kuburan. Yang dicari sebenarnya bukan mayat. Yang dicari adalah kemungkinan. Kemungkinan bahwa kenangan itu masih hidup. Kemungkinan bahwa waktu dapat diputar kembali. Padahal waktu tidak pernah kembali. Di sinilah tragedinya.

Dalam dunia silat Jin Yong, para tokohnya mampu melompat di atas atap, mematahkan pohon, bahkan menghancurkan batu dengan tangan kosong. Kakek aneh itu memperlihatkan kemampuan luar biasa ketika mematahkan pohon dan menghancurkan nisan dengan pukulan-pukulannya.

Namun, ada satu hal yang tidak dapat dikalahkan oleh ilmu silat, yakni kematian. Di sinilah saya melihat kejeniusan Jin Yong. Ia mempertemukan dua hal yang bertolak belakang: kekuatan fisik yang nyaris tak terbatas dan ketidakberdayaan manusia di hadapan waktu.

Tokoh itu mampu menghancurkan batu. Tetapi tidak mampu menghidupkan kembali orang yang dicintainya. Ia mampu mencabut pohon. Tetapi tidak mampu mencabut kesedihan dari hatinya.

Bagian berikutnya menghadirkan simbol yang sangat kuat: sembilan cap tangan darah di dinding rumah keluarga Liok. Bila dibaca sebagai cerita silat, itu adalah ancaman. Tetapi bila dibaca sebagai sastra, sembilan tapak tangan darah adalah metafora. Ia adalah jejak masa lalu. Kita sering berpikir bahwa masa lalu telah selesai. Padahal masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia bisa muncul kapan saja. Kadang dalam bentuk kenangan. Kadang dalam bentuk penyesalan. Kadang dalam bentuk dendam.

Cap-cap tangan itu menjadi simbol bahwa sejarah selalu meninggalkan bekas. Dan bekas itu tidak mudah dihapus. Adegan yang paling menyentuh bagi saya justru bukan ketika kuburan dibongkar. Bukan pula ketika tapak tangan darah muncul. Melainkan ketika anak-anak bermain memetik bunga di atas tembok, bercanda, bertengkar, dan tertawa tanpa mengetahui bahwa kematian sedang mengintai keluarga mereka.

Baca Juga :  TANDA ITU SEMAKIN JELAS TERLIHAT

Adegan ini sangat puitis. Orang dewasa sedang bergulat dengan dendam, sejarah, dan ketakutan. Sementara anak-anak masih hidup dalam dunia yang sederhana. Mereka belum mengenal kebencian. Belum memahami permusuhan. Belum tahu bahwa dunia orang dewasa sering kali lebih kejam daripada dunia persilatan.

Bagi saya, Jin Yong sedang menunjukkan satu hal bahwa kepolosan adalah sesuatu yang paling rapuh di dunia. Banyak orang menyebut karya Jin Yong sebagai novel silat.

Saya tidak sepenuhnya setuju. Novel-novel Jin Yong memang menggunakan silat sebagai panggung. Tetapi yang dipentaskannya adalah persoalan-persoalan manusia yang paling tua, yaitu cinta, kehilangan, kesetiaan, dendam, penyesalan, dan kematian.

Sebab itu,, Kembalinya Pendekar Rajawali sesungguhnya bukan cerita tentang jurus. Ia adalah cerita tentang manusia yang tidak sanggup berdamai dengan masa lalunya. Dan mungkin, jika direnungkan lebih jauh, kita semua pernah menjadi seperti kakek aneh itu. Kita pernah berdiri di depan “kuburan” kenangan kita sendiri. Bukan untuk menguburkan masa lalu. Melainkan untuk memastikan bahwa sesuatu yang kita cintai benar-benar telah pergi.

Dan ketika akhirnya kita sadar bahwa ia tidak akan pernah kembali, kita memahami sebuah pelajaran yang diam-diam disampaikan Jin Yong melalui novel ini, yaitu bahwa kesaktian terbesar bukanlah kemampuan mengalahkan musuh, melainkan keberanian menerima kehilangan.

Bionarasi Penulis

Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

Loading