Kebahagiaan Sejati Tanpa Topeng, Berani Tampil Apa Adanya

LOGIKA *) Redaksi Kita sering merasa bangga, seolah hidup berjalan sempurna dan penuh kebahagiaan. Kita merayakan setiap pencapaian, setiap momen indah, dan setiap hal yang terlihat menyenangkan—semuanya ditampilkan dengan rapi di media sosial, seolah tidak ada satu pun hal yang keliru atau menyakitkan dalam hidup kita. Namun, di balik semua kemegahan dan kebahagiaan yang tampak […]

Loading

Continue Reading

Kwee Siang dan Pemberontakan terhadap Aturan

Ulasan trilogi “Memanah Rajawali” *) Heri Isnaini Jika Pendekar Pemanah Rajawali adalah kisah tentang kesetiaan, dan Kembalinya Pendekar Rajawali adalah kisah tentang kehilangan, maka bagian awal Kisah Membunuh Naga menghadirkan tema yang berbeda: perlawanan terhadap otoritas dan pencarian jati diri di tengah warisan masa lalu. Menariknya, tokoh yang membawa tema itu bukan seorang pendekar laki-laki, […]

Loading

Continue Reading

Ketika Cinta Menjadi Penjara Waktu

Ulasan trilogi “Memanah Rajawali” *) Heri Isnaini Ada orang yang kehilangan seseorang lalu belajar melupakan. Ada pula orang yang kehilangan seseorang dan memilih hidup bersama kehilangan itu. Tokoh kakek aneh dalam bagian awal Kembalinya Pendekar Rajawali termasuk golongan kedua. Empat puluh tahun. Bukan empat hari. Bukan empat bulan. Melainkan empat puluh tahun. Selama empat puluh […]

Loading

Continue Reading

Kwee Ceng dan Sastra Kesetiaan

Ulasan trilogi cerita “Memanah Rajawali” *) Heri Isnaini Ada masa ketika saya mengira bahwa novel silat hanyalah cerita tentang jurus-jurus rahasia, pendekar sakti, dan pertarungan yang menentukan siapa paling kuat. Saya membacanya seperti anak-anak membaca petualangan: menikmati kehebatan tokohnya, menghafal nama jurusnya, lalu selesai ketika halaman terakhir ditutup. Namun, usia mengubah cara membaca. Novel yang […]

Loading

Continue Reading

Membaca Islam Jawa dari Dalam Sastra: Dari Mantra hingga Hujan Sapardi

ESAI *) Heri Isnaini Barangkali saya terlambat menyadari bahwa Islam Jawa tidak pertama-tama saya temukan di masjid, pesantren, atau kitab-kitab agama. Saya justru menemukannya di dalam sastra. Di halaman-halaman teks lama, di antara bait-bait puisi yang tampak sederhana, dalam hikayat, serat, mantra, dan cerita rakyat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, saya menemukan […]

Loading

Continue Reading

Nilai Tukar Rupiah Tembus 17.845: Di Balik Lelucon, Ada Tantangan Kemandirian Ekonomi

EDITORIAL  *) Ardiansyah Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sempat menyentuh angka Rp17.845 pada Kamis, 28 Mei 2026. Hal ini menjadi sorotan publik bukan hanya karena angka tersebut menunjukkan pelemahan mata uang, melainkan juga karena kebetulan yang unik, angka 17-8-45 sama persis dengan tanggal kemerdekaan Indonesia. Di media sosial, angka ini langsung menjadi bahan […]

Loading

Continue Reading

Iduladha dan Orang-Orang yang “Sastrawi”

ESAI *) Heri Isnaini Ada sesuatu yang selalu terasa sendu dalam takbir Iduladha. Entah mengapa setiap gema takbir pada hari itu terdengar berbeda dibanding hari raya lainnya. Ia seperti membawa suara manusia yang sedang belajar menerima kehilangan. Ada nada kepasrahan yang berjalan pelan di dalamnya. Ada kesedihan yang tidak sepenuhnya ingin disembunyikan. Barangkali karena Iduladha […]

Loading

Continue Reading

Buaya Darat dan Kebohongan Semiotis

ESAI *) Heri Isnaini Ada satu jenis manusia yang tidak pernah benar-benar jatuh cinta, tetapi sangat ahli menciptakan tanda-tanda cinta. Ia tahu kapan harus mengucapkan “aku merindukanmu”, kapan harus mengirim lagu yang tepat pada pukul dua pagi, kapan harus memakai kutipan puisi agar terdengar melankolis dan dalam. Ia memahami bahwa manusia modern sering kali jatuh […]

Loading

Continue Reading

Tagar Kabur Saja Dulu dan Puisi “Malu Aku Jadi Orang Indonesia”

ESAI *) Heri Isnaini Fenomena #KaburAjaDulu sesungguhnya bukan gejala yang benar-benar baru. Ia hanya menemukan medium baru: media sosial. Jauh sebelum tagar itu ramai di linimasa, kegelisahan serupa sebenarnya telah lebih dahulu bergaung dalam puisi-puisi kritik sosial Indonesia. Salah satu suara paling nyaring datang dari Taufiq Ismail melalui puisinya “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.” Puisi […]

Loading

Continue Reading

DBH Tertahan: Keberanian Mempertanyakan Adalah Kewajiban, Bukan Pilihan

OPINI  *) Parzani Hutagalung Sibutar-butar  Dana Bagi Hasil (DBH) adalah hak konstitusional yang dimiliki oleh pemerintah daerah, yang diatur secara jelas dalam peraturan perundang-undangan sebagai wujud pelaksanaan prinsip desentralisasi fiskal. Dana ini bersumber dari pendapatan negara yang berasal dari sumber daya alam dan pajak tertentu yang dipungut di wilayah daerah tersebut. Artinya, DBH bukanlah bantuan […]

Loading

Continue Reading