Sastra dan Pendidikan Karakter: Belajar Menjadi Manusia dari Cerita

Opini, Artikel, Sastra

ESAI

*) Heri Isnaini

Barangkali ada banyak cara untuk mengajarkan seseorang menjadi manusia yang baik.

Kita bisa menyusun aturan. Kita bisa membuat tata tertib. Kita bisa menuliskan daftar panjang tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Namun, sejarah peradaban menunjukkan bahwa manusia tidak selalu berubah hanya karena nasihat. Manusia sering kali berubah karena cerita.

Sejak dahulu, manusia hidup bersama cerita. Sebelum sekolah berdiri dengan ruang-ruang kelasnya, sebelum kurikulum disusun dengan rapi, bahkan sebelum buku-buku pelajaran dicetak, cerita telah hadir di tengah masyarakat. Di sekitar api unggun, di serambi rumah, di bawah pohon besar, atau di beranda surau, orang tua menceritakan kisah-kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di dalam cerita-cerita itulah nilai kehidupan ditanamkan.

Sebab itu, ketika berbicara tentang pendidikan karakter, saya selalu merasa bahwa sastra memiliki tempat yang istimewa. Sastra tidak mengajarkan nilai dengan cara menggurui. Sastra tidak berdiri di depan pembaca sambil menunjuk-nunjuk jari. Sastra memilih jalan yang lebih halus, yakni mengajak kita mengalami kehidupan orang lain.

Ketika membaca sebuah novel, kita tidak hanya mengikuti alur cerita. Kita berjalan bersama tokoh-tokohnya. Kita ikut merasakan ketakutan mereka, menyaksikan kegagalan mereka, merayakan kemenangan mereka, dan memahami luka-luka yang mereka sembunyikan. Dalam proses itulah karakter dibentuk.

Seseorang mungkin tidak pernah mengalami kemiskinan seperti yang dialami Ikal dalam Laskar Pelangi. Namun, melalui cerita, ia dapat memahami bagaimana keterbatasan tidak selalu menghalangi seseorang untuk bermimpi. Seseorang mungkin tidak pernah hidup pada masa kolonial, tetapi melalui berbagai novel sejarah ia dapat merasakan betapa mahal harga sebuah kemerdekaan. Seseorang mungkin tidak pernah kehilangan orang yang dicintainya, tetapi melalui puisi ia dapat belajar memahami arti kehilangan.

Baca Juga :  Puisi-puisi Karya Syaufi Anwar Sabran*

Sastra mengajarkan sesuatu yang sering kali tidak dapat diajarkan oleh rumus atau definisi, yakni sebuah empati. Empati adalah kemampuan untuk melihat dunia dari mata orang lain. Kemampuan ini tampak sederhana, tetapi justru menjadi fondasi bagi banyak nilai karakter. Orang yang memiliki empati akan lebih mudah menghargai perbedaan. Ia lebih mampu memahami penderitaan orang lain. Ia lebih berhati-hati dalam bertindak karena menyadari bahwa setiap tindakan memiliki dampak bagi sesama.

Dalam konteks ini, sastra sesungguhnya sedang mengajarkan kemanusiaan. Saya teringat pada berbagai cerita rakyat yang sejak kecil akrab di telinga kita. Kisah Malin Kundang, misalnya, bukan sekadar cerita tentang anak yang durhaka. Cerita itu adalah refleksi tentang hubungan manusia dengan akar kehidupannya. Demikian pula berbagai hikayat, legenda, dan dongeng Nusantara yang menyimpan nilai kesetiaan, keberanian, kejujuran, serta tanggung jawab sosial.

Menariknya, sastra tidak pernah menawarkan manusia yang sempurna. Tokoh-tokoh sastra justru sering kali hadir dengan segala kelemahannya. Mereka melakukan kesalahan, mengalami keraguan, bahkan jatuh berkali-kali. Akan tetapi, dari ketidaksempurnaan itulah pembaca belajar.

Pendidikan karakter bukanlah proses menciptakan manusia tanpa cacat. Pendidikan karakter adalah proses membantu manusia memahami dirinya sendiri, mengenali kelemahannya, lalu berusaha menjadi lebih baik. Sastra menyediakan ruang yang luas untuk proses tersebut.

Di sekolah, sayangnya, sastra kadang masih diperlakukan sebagai hafalan. Siswa diminta mengingat nama pengarang, tahun terbit, atau unsur intrinsik sebuah karya. Semua itu memang penting, tetapi bukan tujuan utama. Tujuan yang lebih besar adalah membantu siswa menemukan makna kehidupan melalui karya sastra.

Ketika seorang siswa membaca puisi dan kemudian merenungkan maknanya, sesungguhnya ia sedang belajar mengenali dirinya sendiri. Ketika ia mendiskusikan konflik tokoh dalam sebuah cerpen, ia sedang berlatih mengambil keputusan moral. Ketika ia menulis cerita, ia sedang belajar memahami manusia dari berbagai sudut pandang.

Baca Juga :  Kaburnya Napi Kotabumi: Sukses Penangkapan, Gagal Pengawasan

Dalam era digital yang serba cepat ini, pendidikan karakter justru semakin membutuhkan sastra. Dunia digital menyediakan limpahan informasi, tetapi tidak selalu menyediakan kebijaksanaan. Kita dapat mengetahui banyak hal hanya dalam hitungan detik, tetapi memahami manusia tetap memerlukan waktu. Sastra mengajarkan kesabaran itu.

Membaca sebuah novel membutuhkan perhatian. Menikmati puisi membutuhkan keheningan. Memahami cerita membutuhkan perenungan. Semua proses tersebut membantu manusia keluar sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan yang serba instan.

Sebab itulah saya percaya bahwa sastra bukan sekadar pelengkap dalam pendidikan. Sastra adalah jantung yang menjaga pendidikan tetap manusiawi.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan hanya menciptakan orang yang cerdas. Dunia telah dipenuhi oleh orang-orang cerdas. Yang sering kurang adalah orang-orang yang mampu memahami sesamanya. Orang-orang yang memiliki kepekaan, kebijaksanaan, dan kasih sayang.

Dan mungkin, di antara begitu banyak jalan yang dapat ditempuh untuk mencapai tujuan itu, sastra adalah salah satu jalan yang paling indah. Sebab melalui sastra, kita tidak hanya belajar membaca kata-kata. Kita belajar membaca kehidupan. Dan dari kehidupan itulah karakter manusia perlahan-lahan dibentuk. (**)

Bionarasi Penulis

Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

Loading