Bentuk “Mitologi Baru” Masyarakat Modern

Opini, Artikel, Sastra

*) Heri Isnaini

Di zaman ketika manusia dapat berbicara dengan orang lain yang berada di belahan dunia berbeda hanya melalui layar telepon genggam, kita sering menganggap diri sebagai masyarakat yang rasional.

Sains berkembang pesat. Teknologi semakin canggih. Informasi bergerak begitu cepat. Namun anehnya, di tengah kemajuan itu, manusia tetap gemar menceritakan kisah-kisah yang sulit dibuktikan kebenarannya.

Ada cerita tentang penumpang misterius yang naik taksi pada tengah malam lalu menghilang sebelum sampai tujuan. Ada kisah tentang kamar hotel yang tidak tercatat dalam denah bangunan. Ada cerita mengenai sosok perempuan yang muncul di jalan tol atau rumah sakit kosong. Di internet, muncul tokoh-tokoh seperti Slender Man, Backrooms, hingga berbagai teori konspirasi yang menyebar begitu luas.

Cerita-cerita semacam itu sering disebut legenda urban. Sebagian orang menganggapnya sekadar hiburan. Sebagian lagi melihatnya sebagai cerita horor biasa. Akan tetapi, jika dicermati lebih dalam, legenda urban sebenarnya memiliki fungsi yang jauh lebih penting. Ia adalah mitologi baru masyarakat modern.

Pernyataan tersebut mungkin terdengar berlebihan. Bukankah mitologi identik dengan dewa-dewa, makhluk gaib, atau kisah penciptaan alam semesta? Bukankah mitologi adalah milik masyarakat kuno?

Namun, justru di sinilah persoalannya. Ketika masyarakat modern merasa telah meninggalkan mitologi lama, mereka tanpa sadar menciptakan mitologi baru. Manusia tidak pernah benar-benar hidup tanpa mitos. Yang berubah hanyalah bentuknya.

Dahulu masyarakat agraris menciptakan kisah tentang naga penjaga sungai, roh hutan, atau dewi kesuburan. Kini masyarakat perkotaan menciptakan kisah tentang apartemen berhantu, lift yang berhenti di lantai tak dikenal, penampakan di jalan raya, atau sosok misterius yang muncul dalam ruang digital. Objeknya berubah. Kecemasannya tetap sama.

Baca Juga :  Ngaku Wartawan, Berita Copy Paste

Di sinilah pemikiran Carl Gustav Jung menjadi menarik untuk digunakan. Menurut Jung, di balik kesadaran individu terdapat lapisan yang lebih dalam yang disebut “collective unconscious” atau alam bawah sadar kolektif. Berbeda dengan alam bawah sadar pribadi yang terbentuk dari pengalaman hidup seseorang, alam bawah sadar kolektif diwariskan secara universal dan dimiliki oleh seluruh umat manusia.

Di dalamnya tersimpan pola-pola purba yang disebut arketipe. Arketipe adalah bentuk dasar yang terus muncul dalam mimpi, mitos, legenda, sastra, dan agama. Sosok ibu, pahlawan, bayangan, orang bijak, penipu, monster, hingga perjalanan menuju transformasi adalah contoh-contoh arketipe yang dapat ditemukan hampir di semua kebudayaan.

Menurut Jung, manusia tidak menciptakan simbol-simbol itu secara sadar. Simbol-simbol tersebut muncul karena berasal dari lapisan terdalam jiwa manusia. Jika demikian, legenda urban dapat dipahami sebagai manifestasi baru dari arketipe-arketipe lama.

Ambil contoh sosok hantu perempuan yang banyak muncul dalam cerita urban Indonesia. Entah itu kuntilanak, perempuan penunggu jalan, atau arwah penasaran yang menghuni bangunan kosong. Secara psikologis, sosok tersebut dapat dibaca sebagai manifestasi arketipe “shadow” atau bayangan.

Dalam teori Jung, “shadow” adalah bagian diri manusia yang berisi ketakutan, hasrat, trauma, dan sisi-sisi gelap yang sering ditolak oleh kesadaran. Karena ditolak, ia muncul dalam bentuk simbolik. Hantu, monster, atau makhluk mengerikan menjadi cara alam bawah sadar menghadirkan kembali hal-hal yang ingin kita sembunyikan.

Mungkin itulah sebabnya cerita-cerita horor selalu bertahan. Mereka bukan sekadar kisah tentang makhluk gaib. Mereka adalah kisah tentang diri kita sendiri. Hal yang sama dapat ditemukan dalam berbagai legenda urban digital. Sosok Slender Man, misalnya, bukan hanya karakter menyeramkan yang lahir dari internet. Ia dapat dibaca sebagai simbol ketakutan manusia modern terhadap sesuatu yang tidak dikenal, tidak terlihat, tetapi terus mengawasi.

Baca Juga :  RINDU EMAK

Demikian pula fenomena Backrooms yang populer di internet. Ruang-ruang kosong tanpa penghuni, lorong tak berujung, lampu neon yang berdengung, dan perasaan tersesat tanpa arah. Semua itu dapat dipahami sebagai simbol kecemasan eksistensial manusia modern yang hidup di tengah dunia yang semakin besar, kompleks, dan impersonal.

Menariknya, legenda urban tidak membutuhkan kebenaran faktual untuk tetap hidup.Yang dibutuhkannya adalah resonansi psikologis. Seseorang mungkin tidak percaya bahwa ada penumpang hantu di jalan raya. Namun cerita itu tetap menarik karena menyentuh ketakutan yang lebih dalam: kesendirian, kematian, dan ketidakpastian.

Dalam pengertian ini, legenda urban bekerja seperti mimpi. Ia tidak harus benar secara empiris. Ia hanya perlu benar secara simbolik. Sebab itu,, legenda urban sesungguhnya adalah cermin psikologis masyarakat modern.

Jika masyarakat kuno meninggalkan jejak ketakutannya melalui mitos tentang naga dan raksasa, maka masyarakat modern meninggalkan jejak ketakutannya melalui cerita tentang teknologi, ruang kosong, kecerdasan buatan, konspirasi, dan makhluk-makhluk yang lahir dari internet.

Setiap zaman memiliki monster sendiri. Setiap zaman juga memiliki mitologinya sendiri. Barangkali inilah alasan mengapa legenda urban tidak pernah mati. Ketika satu cerita menghilang, cerita lain muncul menggantikannya. Ketika satu generasi berhenti mempercayai sebuah mitos, generasi berikutnya menciptakan mitos baru yang lebih sesuai dengan zamannya.

Pada akhirnya, legenda urban bukan sekadar cerita pinggir jalan yang diceritakan untuk menakut-nakuti orang. Ia adalah bahasa simbolik yang digunakan masyarakat modern untuk memahami kecemasan yang tidak selalu dapat mereka jelaskan secara rasional.

Dan sebagaimana diyakini Carl Gustav Jung, selama manusia masih memiliki alam bawah sadar, selama manusia masih menyimpan ketakutan, harapan, dan misteri dalam dirinya, mitologi tidak akan pernah benar-benar hilang.

Baca Juga :  PINTU

Ia hanya berganti wajah. Dari kuil menuju gedung pencakar langit. Dari hutan menuju jalan tol. Dari kitab-kitab kuno menuju layar telepon genggam. Namun hakikatnya tetap sama, yakni usaha manusia untuk memberi makna pada hal-hal yang tidak sepenuhnya dapat dipahaminya.

Bionarasi Penulis

Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

Loading