ESAI
*) Heri Isnaini
Ada masa ketika buku-buku dibaca sembunyi-sembunyi.
Bukan karena buku itu berbahaya bagi negara. Bukan pula karena buku itu mengandung gagasan revolusioner yang dapat mengguncang kekuasaan. Buku-buku itu disembunyikan karena dianggap tidak pantas dibaca. Ia berpindah dari tangan ke tangan seperti sebuah rahasia. Sampulnya kusam. Kertasnya tipis. Huruf-hurufnya hasil stensilan. Namun justru karena itulah ia dicari.
Namanya Enny Arrow. Bagi sebagian generasi yang tumbuh pada dekade 1980-an hingga 1990-an, nama itu bukan sekadar pengarang. Ia telah berubah menjadi legenda kecil dalam sejarah membaca masyarakat Indonesia. Tidak banyak yang tahu siapa sesungguhnya Enny Arrow. Bahkan hingga hari ini identitasnya masih menjadi teka-teki. Namun anehnya, misteri itu tidak pernah mengurangi popularitasnya.
Di sinilah saya sering merasa bahwa sejarah sastra memiliki sifat yang ironis. Di satu sisi, kita mengagungkan karya-karya yang disebut adiluhung. Kita menyimpan novel-novel besar di perpustakaan. Kita membahas puisi-puisi penting di ruang kuliah. Kita menulis skripsi, tesis, dan disertasi tentang karya-karya yang dianggap memiliki mutu estetis tinggi.
Di sisi lain, ada jutaan orang yang diam-diam membaca karya-karya yang tidak pernah masuk kurikulum, tidak pernah memperoleh penghargaan sastra, bahkan sering dicap sebagai sastra picisan. Pertanyaannya sederhana, “Jika karya-karya itu dianggap tidak penting, mengapa begitu banyak orang membacanya?”
Pertanyaan ini membawa saya kepada gagasan tua yang telah berumur lebih dari dua ribu tahun. Seorang penyair Romawi bernama Horatius pernah mengemukakan konsep “dulce et utile.” Sastra, menurut Horatius, seharusnya mampu menghadirkan dua hal sekaligus, yaitu dulce (menyenangkan) dan utile (bermanfaat).
Masalahnya, selama ini kita sering memisahkan keduanya. Kita menganggap sastra yang menghibur sebagai sastra rendah. Sebaliknya, kita menganggap sastra yang mendidik sebagai sastra yang serius dan bermartabat.
Padahal pembaca tidak pernah benar-benar hidup dalam dikotomi semacam itu. Masyarakat membaca karena ingin memperoleh kesenangan. Namun dalam kesenangan itu sering tersembunyi berbagai pelajaran tentang kehidupan.
Fenomena Enny Arrow menunjukkan kenyataan tersebut. Orang tidak membeli dan membacanya karena ingin mendapatkan pelajaran moral. Mereka membacanya karena rasa ingin tahu, karena sensasi, karena hiburan. Dengan kata lain, fungsi dulce-nya bekerja dengan sangat baik.
Tetapi, apakah sebuah karya yang hanya menawarkan kesenangan dapat bertahan lama? Di sinilah diskusi menjadi menarik. Selama berabad-abad, sastra sering ditempatkan sebagai sarana pendidikan karakter. Cerita rakyat mengajarkan kepatuhan kepada orang tua. Hikayat mengajarkan kesetiaan. Novel-novel perjuangan mengajarkan nasionalisme. Puisi-puisi religius mengajarkan spiritualitas.
Sastra dipercaya mampu membentuk manusia. Namun, pengalaman membaca menunjukkan bahwa manusia tidak selalu memilih bacaan yang “baik” menurut para pendidik. Manusia sering memilih bacaan yang menarik bagi dirinya.
Karena itu, mungkin persoalannya bukan pada pertentangan antara sastra adiluhung dan sastra picisan. Persoalannya adalah bagaimana kita memahami kebutuhan pembaca.
Sastra adiluhung menawarkan kedalaman estetik dan refleksi kemanusiaan yang panjang. Ia mengajak pembaca berpikir, merenung, dan menafsirkan kehidupan secara lebih kompleks.
Sastra picisan menawarkan kedekatan dengan kehidupan sehari-hari pembacanya. Ia bergerak cepat, mudah dipahami, dan mampu menjangkau khalayak luas. Keduanya lahir dari rahim kebudayaan yang sama.
Sering kali kita lupa bahwa sebuah karya yang hari ini dianggap adiluhung pernah menjadi bacaan populer pada zamannya. Sebaliknya, karya yang hari ini dianggap picisan mungkin kelak menjadi dokumen penting untuk memahami kehidupan sosial suatu generasi.
Enny Arrow, misalnya, dapat dibaca sebagai arsip budaya tentang hasrat, sensor, moralitas, dan praktik membaca masyarakat Indonesia pada akhir abad ke-20. Dari sudut pandang ini, ia bukan lagi sekadar stensilan erotis. Ia adalah jejak sejarah.
Tentu saja, ini tidak berarti kita harus menempatkan seluruh karya Enny Arrow sejajar dengan karya-karya besar sastra Indonesia. Ada perbedaan kualitas estetik yang tidak bisa diabaikan. Akan tetapi, menolak keberadaannya begitu saja juga berarti menolak memahami kenyataan budaya masyarakat kita sendiri.
Di dunia pendidikan, perdebatan ini memiliki relevansi yang besar. Pendidikan karakter sering kali berangkat dari asumsi bahwa peserta didik hanya perlu diberikan bacaan-bacaan yang bermoral. Padahal kenyataannya, manusia belajar bukan hanya dari apa yang dianggap baik, melainkan juga dari apa yang dianggap bermasalah.
Membaca karya yang kontroversial dapat menjadi ruang untuk berdiskusi tentang nilai, etika, dan pilihan hidup. Pendidikan karakter bukan sekadar menghafal mana yang benar dan mana yang salah. Pendidikan karakter adalah kemampuan untuk mempertimbangkan, menilai, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Dalam pengertian ini, sastra tetap menjadi ruang belajar yang penting. Sastra mengajarkan manusia memahami dirinya sendiri. Kadang melalui tokoh yang heroik. Kadang melalui tokoh yang gagal. Kadang melalui kisah yang mengharukan. Kadang pula melalui kisah yang membuat kita tidak nyaman. Bukankah kehidupan memang demikian?
Pada akhirnya, perdebatan antara sastra adiluhung dan sastra picisan mungkin tidak akan pernah selesai. Akan selalu ada kelompok yang menjaga menara estetika. Akan selalu ada pula pembaca yang berkerumun di kios-kios buku bekas mencari bacaan yang dianggap remeh.
Namun mungkin kita perlu mengingat kembali pesan sederhana Horatius. Sastra hidup bukan hanya karena manfaatnya. Sastra juga hidup karena kemampuannya memberi kenikmatan kepada pembacanya.
Dan sejarah membaca masyarakat sering kali membuktikan bahwa karya yang dicintai pembaca tidak selalu sama dengan karya yang dipuji para kritikus. Di antara keduanya, sastra terus berjalan. Kadang anggun di ruang seminar. Kadang kusut di lapak buku bekas. Tetapi keduanya sama-sama menjadi bagian dari perjalanan manusia untuk memahami dirinya sendiri. (**)
Bionarasi Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.
![]()
