ESAI
*) Heri Isnaini
Ada cerita-cerita yang lahir di tempat berbeda, tumbuh dalam bahasa yang berbeda, dan diwariskan oleh masyarakat yang tidak pernah saling bertemu.
Namun, ketika kita membacanya, kita menemukan sesuatu yang aneh. cerita-cerita itu tampak seperti saudara jauh yang terpisah oleh ruang dan waktu.
Salah satu contoh yang menarik adalah kisah Oedipus dari Yunani dan legenda Sangkuriang dari tanah Sunda. Sekilas, keduanya tampak tidak memiliki hubungan apa pun. Oedipus hidup dalam dunia mitologi Yunani yang dipenuhi dewa-dewa Olimpus, ramalan, dan tragedi. Sementara itu, Sangkuriang tumbuh dalam lanskap pegunungan Priangan, di tengah tradisi lisan masyarakat Sunda yang menjelaskan asal-usul Gunung Tangkuban Parahu.
Namun, semakin dekat kedua kisah itu dibaca, semakin tampak pula kemiripannya. Keduanya bercerita tentang seorang anak yang terpisah dari keluarganya. Keduanya tidak mengenali asal-usulnya sendiri. Keduanya berhadapan dengan sosok ibu dalam situasi yang melanggar batas-batas sosial. Bahkan, keduanya bergerak menuju tragedi yang hanya dapat dihindari ketika kebenaran akhirnya terungkap.
Pertanyaannya kemudian sederhana sekaligus rumit, “Mengapa dua kebudayaan yang berjauhan dapat menghasilkan cerita yang demikian mirip? Apakah ini kebetulan? Ataukah manusia, di mana pun ia hidup, sesungguhnya sedang memimpikan mimpi yang sama?”
Selama berabad-abad, mitos sering dianggap sebagai cerita khayalan masyarakat kuno. Padahal, mitos jauh lebih kompleks daripada sekadar dongeng. Bagi Carl Gustav Jung, mitos adalah ekspresi dari alam bawah sadar kolektif manusia. Jung meyakini bahwa di bawah kesadaran pribadi terdapat lapisan psikis yang lebih dalam, yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di dalam lapisan itu hidup berbagai arketipe, yakni pola-pola dasar yang membentuk cara manusia memahami dunia.
Arketipe tidak memiliki bentuk tetap. Ia dapat muncul sebagai tokoh, simbol, mimpi, atau cerita. Sebab itu, masyarakat yang tidak pernah saling mengenal pun dapat menghasilkan kisah yang serupa. Mereka tidak saling meniru. Mereka hanya sedang berbicara dengan bahasa yang berbeda tentang kecemasan yang sama.
Dalam perspektif ini, Oedipus dan Sangkuriang dapat dipahami sebagai dua manifestasi dari arketipe yang serupa. Salah satu motif yang muncul dalam kedua kisah adalah keterputusan dari asal-usul. Oedipus dibuang sejak bayi karena ramalan yang menyatakan bahwa ia kelak akan membunuh ayahnya. Ia tumbuh tanpa mengetahui identitas keluarga kandungnya. Sementara itu, Sangkuriang meninggalkan ibunya setelah membunuh Tumang, anjing yang sebenarnya merupakan ayahnya sendiri dalam beberapa versi legenda.
Ketika dewasa, keduanya bergerak menuju sesuatu yang hilang, yakni identitas. Mereka mencari siapa diri mereka sesungguhnya, tetapi pencarian itu justru membawa mereka pada tragedi. Di sini, kita menemukan salah satu arketipe paling tua dalam sejarah manusia, yaitu “pencarian asal-usul”.
Manusia selalu ingin mengetahui dari mana ia berasal. Pertanyaan itu tidak hanya bersifat biologis, melainkan juga eksistensial. Kita ingin mengetahui siapa diri kita, apa tempat kita di dunia, dan ke mana kita akan menuju. Mitos menjawab pertanyaan itu melalui perjalanan tokoh-tokohnya.
Pembacaan yang terlalu literal sering kali membuat kisah Oedipus dan Sangkuriang berhenti pada persoalan hubungan sedarah. Padahal, dalam kajian mitologi dan psikologi analitis, sosok ibu memiliki makna yang jauh lebih luas.
Dalam teori Jung, ibu sering muncul sebagai arketipe “Great Mother” atau Ibu Agung. Ia bukan hanya sosok perempuan yang melahirkan, melainkan simbol asal-usul kehidupan, perlindungan, kesuburan, dan rumah pertama manusia.
Ketika Oedipus menikahi Jocasta atau ketika Sangkuriang hendak mempersunting Dayang Sumbi, yang hadir bukan sekadar hubungan biologis antara anak dan ibu. Pada tingkat simbolik, terdapat kerinduan manusia untuk kembali kepada sumber asalnya.
Dengan kata lain, kedua tokoh itu sedang berusaha kembali ke rumah pertama yang telah lama mereka tinggalkan. Namun, kehidupan tidak memungkinkan manusia kembali sepenuhnya ke masa lalu. Sebab itu, usaha tersebut berakhir dengan kegagalan.
Baik Oedipus maupun Sangkuriang berhadapan dengan satu hal yang sama, tabu. Dalam hampir semua kebudayaan, hubungan sedarah merupakan larangan fundamental. Antropolog Claude Lévi-Strauss melihat larangan inses sebagai salah satu fondasi terbentuknya masyarakat manusia. Melalui larangan itu, manusia belajar membangun hubungan sosial di luar lingkaran keluarga.
Maka kisah Oedipus dan Sangkuriang dapat dibaca sebagai narasi tentang batas. Keduanya menunjukkan apa yang terjadi ketika batas itu dilanggar. Di sinilah mitos menjalankan fungsi sosialnya. Ia bukan hanya menghibur, melainkan juga mengajarkan nilai-nilai yang dianggap penting oleh masyarakat.
Dalam tragedi Yunani, Oedipus sering dibaca sebagai korban takdir. Semakin ia berusaha menghindari ramalan, semakin dekat ia menuju pemenuhannya. Dalam legenda Sunda, Sangkuriang juga bergerak menuju sesuatu yang tampaknya tidak dapat dihindari. Ia jatuh cinta kepada perempuan yang ternyata adalah ibunya sendiri.
Akan tetapi, jika dibaca melalui Jung, takdir dalam kedua cerita itu dapat dipahami sebagai simbol dari kekuatan alam bawah sadar. Ada bagian dalam diri manusia yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh kesadaran. Ada dorongan, kerinduan, ketakutan, dan bayangan yang terus bekerja di balik keputusan-keputusan yang kita ambil.
Mitos menerjemahkan kekuatan itu ke dalam bahasa ramalan, kutukan, atau nasib. Psikologi modern menerjemahkannya sebagai alam bawah sadar. Bahasanya berbeda, tetapi yang dibicarakan sesungguhnya sama.
Mungkin Oedipus dan Sangkuriang tidak pernah saling mengenal. Mungkin masyarakat Yunani tidak pernah mendengar nama Dayang Sumbi, sebagaimana masyarakat Sunda kuno tidak pernah mendengar nama Jocasta.
Namun, keduanya lahir dari sumber yang serupa, yaitu pengalaman manusia. Mereka berbicara tentang kehilangan, pencarian identitas, kerinduan pada asal-usul, dan batas-batas yang tidak boleh dilanggar. Mereka menunjukkan bahwa manusia, meskipun hidup dalam kebudayaan yang berbeda, sering kali memikul kecemasan yang sama.
Sebab itulah kedua cerita tersebut terasa akrab ketika dibaca hari ini. Bukan karena Oedipus adalah Sangkuriang. Bukan pula karena Sangkuriang adalah Oedipus, melainkan karena keduanya merupakan cermin dari sesuatu yang lebih tua daripada Yunani dan lebih tua daripada Sunda, yaitu jiwa manusia itu sendiri.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah mengapa Oedipus dan Sangkuriang memiliki mimpi yang sama. Pertanyaan yang lebih menarik adalah “Mengapa, ribuan tahun kemudian, kita masih dapat mengenali diri kita di dalam mimpi mereka?” (**)
Bionarasi Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.
![]()
