(Fragmen yang Kehilangan Jiwa)
ESAI
*) Heri Isnaini
Di ruang-ruang kelas, bahasa sering kali hadir dalam keadaan yang ganjil. Ia diajarkan, tetapi tidak dihidupkan. Ia disusun rapi dalam silabus, dipilah dalam kompetensi, diukur dalam angka, tetapi justru di saat itulah bahasa perlahan kehilangan napasnya.
Dalam praktik pengajaran bahasa (pelajaran Bahasa Indonesia, misalnya), kita menyaksikan kecenderungan yang hampir tak pernah dipersoalkan, yaitu keterampilan berbahasa direduksi menjadi unit-unit yang terpisah.
Menyimak diajarkan pada jamnya sendiri, berbicara dilatih dalam ruangnya sendiri, membaca dipahami sebagai aktivitas sunyi yang berdiri sendiri, dan menulis ditempatkan sebagai keterampilan akhir yang sering kali paling ditakuti.
Semua tampak rapi. Administratif. Terukur. Seolah-olah bahasa bisa dijinakkan melalui pembagian kerja yang sistematis. Namun di titik inilah persoalan bermula.
Sebab dalam hakikatnya bahasa tidak pernah bekerja dalam isolasi. Ia bukan kumpulan keterampilan yang bisa dipisah-pisahkan seperti bagian mesin. Bahasa adalah peristiwa. Ia mengalir. Ia bergerak. Ia terjadi dalam keutuhan.
Seorang anak yang menyimak cerita, pada saat yang sama sedang membangun kemungkinan untuk berbicara. Seseorang yang membaca diam-diam sedang menyiapkan dirinya untuk menulis atau setidaknya, untuk merespons dunia. Bahkan dalam satu momen sederhana, dalam percakapan sehari-hari misalnya, keempat keterampilan itu hadir bersamaan, saling menghidupi, saling menguatkan.
Tetapi di kelas, bahasa diperlakukan sebaliknya, yakni sebagai unit kompetensi yang berdiri sendiri, bukan sebagai sistem yang berdenyut. Di sinilah reduksi itu terjadi. Reduksi bukan sekadar penyederhanaan, tetapi ia adalah pemotongan terhadap keutuhan. Ketika keterampilan berbahasa dipisahkan, yang hilang bukan hanya keterkaitannya, tetapi juga maknanya. Siswa mungkin belajar membaca, tetapi tidak belajar bagaimana bacaan itu menggerakkan pikirannya untuk berbicara. Mereka mungkin belajar menulis, tetapi tanpa pengalaman menyimak dan membaca yang cukup, tulisan itu menjadi kering.
Akibatnya, yang tumbuh adalah kompetensi yang timpang. Ada siswa yang mampu menulis panjang, tetapi gagap ketika harus mengungkapkan gagasannya secara lisan. Ada yang fasih berbicara, tetapi kesulitan memahami teks yang kompleks. Transfer keterampilan (yang seharusnya menjadi jembatan alami) justru runtuh sebelum sempat dibangun. Bahasa pun perlahan berubah bentuk. Ia tidak lagi menjadi praktik sosial yang hidup, melainkan sekadar latihan teknis yang harus diselesaikan.
Lebih jauh lagi, krisis ini diperparah oleh dominasi pendekatan mekanistik, yakni sebuah cara pandang yang memperlakukan bahasa seperti mesin yang bisa dikuasai melalui prosedur tetap. Dalam pendekatan ini, belajar bahasa direduksi menjadi serangkaian aktivitas yang nyaris ritualistik, seperti mengisi soal, menghafal pola, mengulang struktur. Segala sesuatu harus benar atau salah. Tidak ada ruang untuk ragu, apalagi untuk menafsir.
Bahasa, yang seharusnya menjadi ruang negosiasi makna, justru dibekukan menjadi kumpulan aturan. Ia kehilangan kelenturannya, kehilangan ambiguitasnya, kehilangan kemungkinan-kemungkinannya. Padahal justru di dalam ketidakpastian itulah bahasa menemukan kedalamannya.
Pendekatan mekanistik mengabaikan satu hal mendasar bahwa bahasa adalah pengalaman manusia. Ia lahir dari relasi, dari konteks, dari kebutuhan untuk memahami dan dipahami. Ketika bahasa diperlakukan semata sebagai struktur, maka yang terhapus adalah dimensi manusianya.
Tidak mengherankan jika kemudian siswa menjadi pasif. Mereka mengikuti pola, tetapi tidak benar-benar berpikir. Mereka menjawab soal, tetapi tidak membangun makna. Kreativitas bahasa tereduksi menjadi kepatuhan terhadap aturan. Dan ketika mereka keluar dari ruang kelas, bahasa yang mereka pelajari tidak sepenuhnya dapat mereka gunakan (karena dunia nyata tidak pernah sesederhana soal pilihan ganda.)
Di titik ini, kita bisa melihat krisis itu secara utuh. Di satu sisi, bahasa terfragmentasi, dipisah-pisahkan hingga kehilangan keterkaitannya. Di sisi lain, bahasa dimekanisasi, diprosedurkan hingga kehilangan jiwanya. Fragmentasi dan mekanisasi bertemu dalam satu konsekuensi yang sama, yakni bahasa kehilangan keutuhannya sebagai praktik yang hidup.
Pembelajaran bahasa pun berubah menjadi sesuatu yang teknis, terpisah, dan tidak reflektif. Ia tidak lagi menjadi ruang pengalaman, melainkan sekadar ruang latihan. Dan mungkin, tanpa kita sadari, di situlah letak kegagalan paling nyata.
Bandung, 4 Mei 2025
Bionarasi Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.
![]()
