ESAI
*) Heri Isnaini
Ada perempuan-perempuan yang hidup dalam sejarah. Ada pula perempuan-perempuan yang hidup melampaui sejarah. Nama mereka tidak sekadar tercatat dalam kronik, melainkan menjelma menjadi simbol yang terus berkelana dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ken Dedes adalah salah satu di antaranya.
Bagi banyak orang, Ken Dedes dikenal sebagai permaisuri Ken Angrok, pendiri Singhasari. Kisahnya telah berulang kali diceritakan dalam buku sejarah, pelajaran sekolah, novel, hingga film. Namun, semakin lama saya membaca berbagai kisah tentang dirinya, semakin terasa bahwa Ken Dedes sesungguhnya bukan sekadar tokoh sejarah. Ia telah menjelma menjadi mitos.
Dan sebagaimana semua mitos besar, yang penting bukan lagi apakah kisah itu benar-benar terjadi atau tidak. Yang penting adalah mengapa masyarakat terus merasa perlu menceritakannya.
Dalam perspektif psikologi analitik Carl Gustav Jung, Ken Dedes dapat dibaca sebagai manifestasi arketipe The Great Mother atau Sang Ibu Agung. Ia bukan hanya perempuan yang hidup pada abad ke-13. Ia adalah simbol kolektif yang mewakili kesuburan, kelahiran, legitimasi, dan kekuasaan.
Ketika membaca Pararaton, perhatian pembaca sering tertuju pada Ken Angrok. Ia digambarkan sebagai tokoh ambisius yang berhasil menggulingkan Tunggul Ametung dan mendirikan kerajaan baru. Namun jika diperhatikan lebih dalam, pusat cerita sesungguhnya bukanlah Ken Angrok.
Pusat cerita itu adalah Ken Dedes. Ken Angrokbergerak karena Ken Dedes. Tunggul Ametung mati karena Ken Dedes. Sebuah kerajaan lahir karena Ken Dedes. Sebuah dinasti besar berdiri karena Ken Dedes. Seolah-olah sejarah Jawa berputar di sekitar sosok perempuan ini.
Dalam Pararaton terdapat kisah yang sangat terkenal. Ketika kain Ken Dedes tersingkap oleh angin, Ken Angrok melihat cahaya yang memancar dari tubuhnya. Seorang brahmana kemudian menjelaskan bahwa cahaya tersebut merupakan tanda perempuan yang akan menurunkan raja-raja besar.
Bacaan sejarah mungkin mempertanyakan kebenaran kisah itu. Akan tetapi, bacaan mitologi justru menemukan makna yang jauh lebih dalam. Cahaya itu bukan cahaya. Ia adalah simbol.
Dalam berbagai kebudayaan dunia, perempuan sakral hampir selalu digambarkan memiliki aura ilahi. Mereka bukan perempuan biasa. Mereka adalah titik pertemuan antara dunia manusia dan dunia yang lebih tinggi. Cahaya pada tubuh Ken Dedes menunjukkan bahwa tubuhnya telah berubah menjadi ruang simbolik yang suci. Tubuhnya bukan lagi tubuh seorang perempuan. Tubuhnya adalah takdir.
Jung menjelaskan bahwa arketipe “The Great Mother” muncul dalam berbagai bentuk. Kadang ia hadir sebagai dewi kesuburan, kadang sebagai ibu bumi, kadang sebagai perempuan bijaksana, dan kadang sebagai rahim kosmis yang melahirkan peradaban.
Pada titik ini, Ken Dedes tampak sangat dekat dengan arketipe tersebut. Ia tidak dikenang karena memenangkan peperangan. Ia tidak dikenang karena menyusun strategi politik. Ia tidak dikenang karena memimpin pasukan. Yang membuatnya abadi justru kemampuan simboliknya untuk melahirkan garis keturunan para penguasa.
Dalam mitologi Jawa, Ken Dedes menjadi asal-usul lahirnya raja-raja besar. Tubuhnya menjadi sumber legitimasi. Rahimnya menjadi fondasi dinasti. Dalam perspektif Jungian, fungsi semacam ini merupakan ciri khas “The Great Mother.” Ia adalah sumber kehidupan sekaligus sumber keteraturan sosial. Maka tidak mengherankan jika Ken Dedes terus dikenang meskipun para raja yang lahir sesudahnya silih berganti hilang dari ingatan masyarakat.
Di berbagai kebudayaan dunia, pola semacam ini juga dapat ditemukan. Dalam mitologi Yunani terdapat Helen yang kecantikannya memicu Perang Troya. Dalam kisah Ramayana terdapat Sita yang menjadi pusat konflik antara Rama dan Rahwana. Dalam tradisi Arthurian terdapat Guinevere yang keberadaannya menentukan nasib Camelot.
Perempuan-perempuan ini bukan sekadar tokoh pendamping. Mereka adalah poros simbolik tempat sejarah bergerak. Ken Dedes menempati posisi yang serupa dalam tradisi Jawa. Keberadaannya membuat Ken Angrok memperoleh legitimasi yang tidak dimiliki orang lain. Dalam bahasa yang lebih sederhana, Ken Angrok tidak hanya merebut kekuasaan Tumapel. Ia merebut simbol kekuasaan itu sendiri. Dan simbol itu bernama Ken Dedes.
Pembacaan ini menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan arca Prajnaparamita yang selama bertahun-tahun dipercaya sebagai perwujudan Ken Dedes. Arca tersebut memperlihatkan sosok perempuan yang tenang, anggun, dan penuh kebijaksanaan. Tidak ada kesan agresif. Tidak ada kesan mengancam. Namun justru dari ketenangan itulah terpancar kewibawaan yang luar biasa.
Dalam banyak tradisi, “The Great Mother” memang tidak memerintah melalui pedang. Ia memerintah melalui simbol. Ia tidak menaklukkan dunia dengan kekuatan fisik. Ia menaklukkan dunia dengan makna. Arca Prajnaparamita menjadi gambaran yang sangat tepat bagi konsep tersebut. Sosok perempuan yang diam, tetapi menjadi pusat kosmos.
Perempuan yang tidak bergerak, tetapi menggerakkan sejarah. Perempuan yang tampak pasif, tetapi sesungguhnya menjadi sumber segala perubahan. Yang menarik, masyarakat Jawa tampaknya memiliki kedekatan khusus dengan figur Sang Ibu Agung.
Kita mengenal Dewi Sri sebagai simbol kesuburan. Kita mengenal Nyi Roro Kidul sebagai penjaga legitimasi kekuasaan raja-raja Jawa. Kita mengenal tokoh-tokoh perempuan sakral lain yang berada di antara sejarah dan mitologi.
Dalam konteks ini, Ken Dedes bukanlah pengecualian. Ia merupakan bagian dari tradisi panjang yang menempatkan perempuan sebagai pusat simbolik kehidupan dan kekuasaan. Bukan kebetulan jika masyarakat terus mengingatnya selama berabad-abad. Mitos tidak pernah bertahan selama itu tanpa alasan. Mitos bertahan karena ia menyimpan sesuatu yang dianggap penting oleh suatu kebudayaan.
Pada akhirnya, membaca Ken Dedes melalui perspektif “The Great Mother” membawa kita pada pemahaman yang berbeda. Ia bukan lagi sekadar perempuan cantik yang diperebutkan laki-laki. Ia bukan pula sekadar permaisuri yang melahirkan keturunan raja.
Ia adalah simbol kolektif tentang bagaimana masyarakat Jawa membayangkan asal-usul kekuasaan. Tubuhnya bukan hanya tubuh. Tubuhnya adalah teks budaya. Rahimnya bukan hanya rahim. Rahimnya adalah metafora kelahiran peradaban. Dan kecantikannya bukan sekadar persoalan rupa.
Kecantikannya adalah bahasa simbolik yang digunakan masyarakat untuk menjelaskan mengapa seorang penguasa dianggap layak memerintah. Mungkin karena itulah nama Ken Dedes tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan kita. Ia terus hidup dalam cerita, dalam legenda, dalam penelitian, dan dalam berbagai tafsir baru.
Sebab jauh di balik kisah cinta, intrik, dan perebutan kekuasaan, Ken Dedes sesungguhnya adalah wajah lain dari Sang Ibu Agung yang terus bersemayam dalam alam bawah sadar budaya Jawa.
Bionarasi Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.
![]()
