FEATURE
*) Ardiansyah
Dulu, saat menyebut nama Kabupaten Lampung Utara, benak orang langsung tertuju pada satu komoditas, lada.
Bahkan daerah ini memiliki julukan kehormatan yang melekat erat dalam sejarah pertanian Indonesia, yaitu “Tanah Lado” atau Tanah Lada.
Di rentang tahun 1970-an hingga 1980-an, sebutan itu bukan sekadar nama puitis. Ia adalah gambaran nyata kekayaan alam dan kesejahteraan masyarakat. Pada masa keemasannya, produksi lada hitam di Provinsi Lampung, khususnya Kabupaten Lampung Utara dan wilayah sekitarnya, mampu menembus angka 50.000 ton per tahun. Komoditas ini bukan hanya menjadi tulang punggung perekonomian keluarga, tetapi juga menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara. Lada Lampung dikenal memiliki kualitas unggul dan diminati pasar internasional.
Namun, melintasi waktu, pemandangan di perkebunan berubah drastis. Kini, jika menyusuri hamparan lahan yang dulunya rimbun dengan tanaman lada merambat, mata justru akan disuguhi pemandangan yang seragam, ratusan hektar lahan yang ditumbuhi tanaman singkong yang tumbuh menjulang. Julukan “Tanah Lado” perlahan mulai pudar, digantikan oleh realitas baru yang muncul akibat perubahan besar dalam pola pertanian masyarakat.
Konversi Lahan: Antara Kelangsungan Hidup dan Pilihan Ekonomi
Perubahan wajah pertanian ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari tekanan ekonomi yang memaksa petani mengambil keputusan sulit. Faktor utama yang mendorong peralihan fungsi lahan ini adalah perbedaan karakteristik ekonomi antara kedua tanaman tersebut.

Lada adalah komoditas yang membutuhkan kesabaran panjang. Sejak bibit ditanam, dibutuhkan waktu 3 hingga 4 tahun sebelum tanaman tersebut dapat dipanen secara maksimal dan memberikan hasil yang layak. Di samping itu, perawatan lada membutuhkan ketelitian, biaya yang tidak sedikit, serta perhatian ekstra. Risikonya pun terbilang tinggi.
Sebaliknya, singkong hadir sebagai solusi instan yang menawarkan kepastian lebih cepat. Tanaman ini hanya memerlukan waktu 8 hingga 12 bulan sejak tanam hingga siap dipanen. Biaya perawatannya jauh lebih murah, tidak memerlukan pupuk yang mahal, dan lebih tahan terhadap kondisi tanah yang kurang subur maupun gangguan lingkungan.
“Petani butuh uang untuk makan, bayar sekolah anak, dan kebutuhan sehari-hari. Kalau tanam lada, harus menunggu bertahun-tahun tanpa hasil. Singkong bisa dipanen setahun sekali, uangnya langsung bisa dipakai,” ungkap Suyono (62), petani generasi kedua yang pernah merasakan masa kejayaan lada.
Tak hanya itu, permintaan pasar terhadap singkong juga terjamin stabil. Komoditas ini menjadi bahan baku utama bagi industri tepung, pakan ternak, pembuatan lem, hingga bahan bakar nabati. Bagi petani, singkong adalah jaminan penghasilan yang lebih pasti dibandingkan lada yang harganya seringkali berfluktuasi tajam dan dikuasai oleh tengkulak.
Dihantam Musuh Alami dan Perubahan Iklim
Tekanan terhadap perkebunan lada tidak hanya datang dari sisi ekonomi, tetapi juga dari tantangan alam yang semakin sulit dikendalikan. Dua dekade terakhir, perkebunan lada di Lampung Utara terus dihantam serangan hama dan penyakit yang mematikan.
Ancaman terbesar datang dari penyakit layu fusarium, sebuah penyakit yang menyerang sistem perakaran dan sulit diberantas karena bertahan lama di dalam tanah. Begitu terserang, seluruh kebun bisa mati dalam waktu singkat. Ditambah lagi serangan hama penggerek batang dan kutu daun yang menurunkan kualitas hasil panen secara signifikan.
Masalah ini diperparah oleh dampak perubahan iklim global. Lada merupakan tanaman yang sangat sensitif terhadap perubahan cuaca. Pola curah hujan yang kini tidak menentu—kadang terjadi kekeringan berkepanjangan, kadang diikuti hujan lebat yang berlebihan—sangat mengganggu pertumbuhan, pembungaan, hingga pembuahan tanaman lada. Banyak petani yang akhirnya merasa lelah dan putus asa, sehingga memilih untuk mengganti tanaman secara total.
Dampak Jangka Panjang yang Perlu Diwaspadai
Peralihan massal ke pertanian singkong memang membawa angin segar di awal. Penghasilan petani menjadi lebih lancar, risiko gagal panen berkurang, dan lahan tetap tergarap. Namun, di balik manfaat jangka pendek tersebut, tersimpan dampak jangka panjang yang perlu diwaspadai bersama.
Secara ekonomi, nilai strategis lada jauh lebih tinggi. Sebagai komoditas ekspor, lada memiliki nilai tambah yang besar dan dapat mendatangkan devisa jauh lebih banyak per hektar dibandingkan singkong yang umumnya dijual dalam bentuk bahan baku mentah dengan harga rendah.
Dari sisi lingkungan, singkong dikenal sebagai tanaman penguras unsur hara tanah. Jika ditanam terus-menerus secara terus-menerus tanpa pola rotasi tanaman dan pemupukan yang tepat, kesuburan tanah akan menurun drastis. Hal ini berisiko membuat lahan menjadi tandus dan sulit dikembalikan untuk ditanami komoditas bernilai tinggi di masa depan.
Lebih dari sekadar aspek ekonomi dan lingkungan, hilangnya perkebunan lada juga berarti memudarnya identitas budaya dan sejarah yang telah dibangun selama puluhan tahun. Julukan “Tanah Lado” yang menjadi kebanggaan masyarakat perlahan terhapus oleh realitas ekonomi yang keras.
Masa Depan: Antara Mempertahankan dan Beradaptasi
Pertanyaan besar yang kemudian muncul, apakah kejayaan lada di Lampung Utara sudah berakhir selamanya?
Para pengamat pertanian menilai bahwa peluang untuk memulihkan kejayaan tersebut masih terbuka lebar, namun tidak bisa kembali dengan cara yang sama seperti masa lalu. Solusi terbaik bukanlah melarang petani menanam singkong, melainkan menciptakan keseimbangan ekonomi.
Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan perlu hadir untuk membuat lada kembali menarik secara ekonomi. Langkah yang dapat ditempuh antara lain menyediakan bibit unggul yang tahan penyakit dan cuaca, memberikan jaminan harga pembelian yang layak, membuka akses permodalan yang ringan, serta mendorong pendirian industri pengolahan lada agar tidak hanya dijual mentah, melainkan menjadi produk bernilai tambah tinggi seperti bubuk kemasan, ekstrak, atau minyak atsiri.
Jika hal ini terwujud, bukan tidak mungkin di masa mendatang, Lampung Utara dapat kembali menyandang gelar “Tanah Lado” yang membanggakan, sekaligus tetap memanfaatkan potensi ekonomi dari komoditas lain seperti singkong secara berkelanjutan. Sebab, sejarah kejayaan lada tidak boleh hilang begitu saja, melainkan harus menjadi fondasi untuk membangun masa depan pertanian yang lebih sejahtera. (**)
![]()
