Ditulis oleh: Heri Isnaini
Hari ini, kita hidup di zaman yang serba cepat. Informasi datang dari berbagai arah, seperti media sosial, portal berita, grup WhatsApp keluarga, hingga komentar netizen di akun selebritas. Di tengah banjir informasi itu, muncul pertanyaan penting, “Apakah kita benar-benar paham dengan apa yang kita baca, dengar, dan bagikan?” Di sinilah letak pentingnya literasi. Akan tetapi, literasi saja tidak cukup. Kita juga perlu etika.
Selama ini, banyak orang memahami literasi sebatas bisa membaca dan menulis. Padahal, makna literasi jauh lebih luas dari itu. Literasi berarti kemampuan untuk memahami, menafsirkan, dan menggunakan informasi secara kritis dan bertanggung jawab.
Literasi adalah kemampuan kita dalam menyaring informasi yang benar dan yang menyesatkan. Mana yang perlu dibagikan, mana yang sebaiknya disimpan sendiri. Tetapi tanpa nilai etika, literasi bisa jadi senjata yang membahayakan.
Coba kita lihat media sosial. Ada banyak orang pintar menulis, tetapi tidak semua bijak dalam menggunakan kata. Ada yang dengan mudahnya menyebarkan kabar palsu, menjatuhkan orang lain lewat opini sepihak, atau sekadar ikut-ikutan membagikan informasi yang belum tentu benar. Di sini, kita melihat bahwa orang bisa saja “literat” secara teknis, tetapi belum tentu etis secara moral.
Etika menjadi fondasi penting dalam praktik literasi. Etika membuat seseorang berpikir dua kali sebelum mengeklik tombol “bagikan.” Etika mengingatkan kita bahwa tulisan, ucapan, dan informasi bisa berdampak pada kehidupan nyata orang lain. Bayangkan jika sebuah berita bohong tentang seseorang tersebar luas, lalu orang itu kehilangan pekerjaan atau martabatnya rusak. Semua itu bisa terjadi hanya karena literasi yang tidak dibarengi etika.
Lalu, bagaimana cara menyatukan literasi dan etika dalam kehidupan sehari-hari?
Pertama, dimulai dari kesadaran bahwa informasi bukan sekadar bahan bacaan, tetapi punya nilai dan dampak. Misalnya, sebelum membagikan berita, kita bisa cek dulu sumbernya. Apakah berasal dari media kredibel? Apakah sudah diverifikasi? Hal-hal sederhana seperti itu bisa mencegah penyebaran hoaks dan fitnah.
Kedua, kita perlu membiasakan diri untuk membaca secara kritis dan empatik. Artinya, kita tidak hanya menganalisis isi bacaan, tetapi juga menempatkan diri pada posisi orang lain. Apakah informasi ini menyakiti pihak tertentu? Apakah bahasa yang digunakan sudah adil? Di sinilah peran etika bekerja, yaitu menyeimbangkan kecerdasan akal dengan kepekaan hati.
Ketiga, pendidikan harus menjadi tempat terbaik untuk melatih literasi berbasis etika. Di sekolah, siswa seharusnya tidak hanya belajar menulis dan membaca, tetapi juga belajar nilai-nilai, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat. Ketika siswa diminta menulis esai, guru bisa menekankan pentingnya mencantumkan sumber. Saat diskusi kelas, guru bisa mengajak siswa menyampaikan pendapat dengan sopan, tidak menyerang pribadi. Hal-hal kecil seperti ini akan membentuk kebiasaan besar.
Orang tua juga punya peran penting. Di rumah, anak bisa belajar dari contoh. Jika orang tua terbiasa menyaring informasi dan tidak mudah terpancing provokasi, anak pun akan meniru. Literasi dan etika seharusnya menjadi bagian dari budaya keluarga.
Terakhir, dunia digital harus lebih ramah dan beretika. Platform media sosial bisa menghadirkan fitur edukatif yang mendorong pengguna berpikir kritis sebelum membagikan sesuatu. Media massa pun harus menjaga integritas dalam menyajikan informasi tidak sekadar mengejar klik dan sensasi, tetapi juga memperhatikan dampak sosial.
Kita tidak sedang kekurangan informasi. Yang kita butuhkan justru adalah kemampuan untuk memilah, mencerna, dan menggunakan informasi dengan tanggung jawab moral. Literasi tanpa etika hanya akan melahirkan kecerdasan yang dingin dan bisa melukai. Akan tetapi literasi yang dibalut etika akan melahirkan manusia-manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijak dan beradab.
Maka dari itu, mari kita jaga nalar dan nurani dalam setiap kata yang kita baca dan tulis. Karena dalam dunia yang gaduh ini, hanya mereka yang mampu berpikir jernih dan merasa dengan hati yang bisa menjadi cahaya. (*)
BIONARASI PENULIS
Heri Isnaini lahir di Subang, Jawa Barat, pada tanggal 17 Juni. Heri sangat menyukai puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Pernah mengikuti acara “Temu Penyair Asia Tenggara 2018” di Padang Panjang, Sumatera Barat, mengikuti Festival Seni Multatuli 6-9 September 2018 di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Puisi-puisinya juga pernah dimuat pada Jurnal Aksara, Deakin University, Australia.
Antologi puisinya, Ritus Hujan (2016); Singlar Rajah Asihan: Kumpulan Sajak (2018); Ah, Mungkin Kau Lupa Aku Begitu Merindumu (2019); Manunggaling Kawula Gusti: Kumpulan Sajak (2020); Montase: Sepilihan Sajak (2022). Cerpennya pernah dimuat pada koran Radar Banyuwangi, Radar Kediri, dan Harian Rakyat Sultra. Beberapa media daring di Indonesia seperti Radar Utara, Restorasi News Siber Indonesia, Tebu Ireng Online, Bali Politika, Berita Jabar News, Sip Publishing, Himpun.id, Negerikertas.com, Potret online, Tajdid.id, Madrasah Digital.co, Riau Sastra, Literatura Nusantara, Pustaka Ekspresi, Nolesa.com, Selingkarwilis.com, Pronesiata.id juga pernah memuat karya-karyanya.
Kegiatan sehari-hari Heri adalah Dosen Sastra IKIP Siliwangi Kota Cimahi. Selain itu, Heri juga banyak beraktivitas sebagai editor dan reviewer di berbagai jurnal ilmiah di dalam dan luar negeri. (*)
![]()
