Paralaks dan Sastra Indonesia

Opini, Artikel, Sastra

ESAI SASTRA

*) Heri Isnaini

Ada sebuah konsep dalam astronomi yang tampaknya sederhana, tetapi sebetulnya sangat dekat dengan sastra: paralaks.

Dalam ilmu astronomi, paralaks adalah perubahan posisi tampak suatu benda ketika dilihat dari dua titik pengamatan yang berbeda. Sebuah bintang dapat terlihat bergeser bukan karena ia benar-benar berpindah, melainkan karena pengamatnya berubah posisi.

Konsep ini dapat menjadi cara menarik untuk memahami sastra, terutama sastra Indonesia. Sebab sastra pada dasarnya tidak hanya bercerita tentang peristiwa, tetapi juga tentang bagaimana suatu peristiwa dipandang, diingat, dan dimaknai. Realitas dalam sastra tidak pernah benar-benar tunggal. Ia berubah sesuai sudut pandang tokoh, narator, masyarakat, bahkan pembacanya sendiri.

Dalam banyak karya sastra Indonesia, mekanisme paralaks bekerja secara halus maupun terang-terangan.

Ilustrasi foto: Heri Isnaini.

Salah satu contoh paling menarik dapat ditemukan dalam novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli. Pada masa awal kemunculannya, novel ini sering dibaca sebagai kritik terhadap kawin paksa dan feodalisme adat. Namun, ketika dibaca kembali hari ini, maknanya menjadi lebih kompleks. Pembaca modern tidak hanya melihat penderitaan Siti Nurbaya sebagai korban tradisi, tetapi juga melihat bagaimana tubuh perempuan dikendalikan oleh sistem sosial patriarkal. Novel yang sama menghadirkan makna berbeda ketika dibaca dari “titik pengamatan” zaman yang berbeda. Di sinilah paralaks sastra bekerja.

Hal serupa tampak dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Banyak pembaca melihat novel itu sebagai kisah inspiratif tentang pendidikan dan kemiskinan. Namun, dari perspektif lain, novel tersebut juga dapat dibaca sebagai kritik terhadap ketimpangan sosial dan eksploitasi sumber daya di Belitung. Bahkan tokoh-tokohnya sendiri dapat dimaknai berbeda. Ikal bisa dilihat sebagai simbol harapan, tetapi juga sebagai representasi nostalgia terhadap masa kecil yang perlahan hilang. Objek ceritanya tetap sama, tetapi sudut pandangnya mengubah makna.

Baca Juga :  "Cancel Culture” dan Bahasa yang Baik: Membaca Ucapan MC dalam Ruang Publik Digital

Dalam cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarma, paralaks sering hadir melalui cara kekerasan dipandang. Misalnya dalam “Saksi Mata”, kekerasan tidak selalu ditampilkan secara langsung, tetapi melalui fragmen, kesaksian, dan potongan pengalaman. Pembaca dipaksa melihat tragedi dari berbagai sudut yang tidak utuh. Akibatnya, kebenaran terasa retak dan ambigu. Di sini, paralaks bukan hanya tema, tetapi juga teknik penceritaan.

Konsep serupa dapat ditemukan dalam karya-karya Pramoedya Ananta Toer, terutama novel Bumi Manusia. Tokoh Minke dapat dipandang sebagai simbol perlawanan kolonial. Namun, pada saat yang sama, ia juga dapat dibaca sebagai tokoh yang terjebak dalam ambivalensi identitas, yaitu pribumi yang terdidik Barat, tetapi tetap tidak sepenuhnya diterima oleh sistem kolonial. Perspektif pembaca menentukan bagaimana tokoh itu dimaknai.

Dalam puisi Indonesia, paralaks bahkan bekerja lebih subtil. Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono misalnya, sering tampak sederhana pada pembacaan pertama. Namun, ketika dibaca ulang dalam pengalaman hidup yang berbeda, maknanya berubah. Puisi “Aku Ingin” dapat dibaca sebagai puisi cinta yang lembut, tetapi juga dapat dimaknai sebagai refleksi tentang kefanaan, kehilangan, dan cara manusia menyembunyikan luka dalam kesederhanaan bahasa.

Hal itu menunjukkan bahwa sastra sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang cerita, tetapi juga tentang posisi melihat. Dua orang pembaca mungkin membaca karya yang sama, tetapi menemukan makna yang berbeda karena mereka datang dari pengalaman hidup yang berbeda pula.

Di era kontemporer, paralaks menjadi semakin penting karena manusia hidup dalam dunia yang penuh benturan perspektif. Media sosial, politik identitas, dan banjir informasi membuat satu peristiwa dapat menghasilkan banyak versi kebenaran. Sastra hadir bukan untuk memilih satu kebenaran mutlak, melainkan untuk memperlihatkan kerumitan cara manusia memahami realitas.

Baca Juga :  LEBARAN DAN PEMULUNG RENTA

Karena itu, paralaks dalam sastra Indonesia bukan sekadar konsep teoretis. Ia hidup dalam tokoh-tokoh yang ambigu, dalam kenangan yang berubah, dalam sejarah yang diperdebatkan, dan dalam puisi-puisi yang maknanya terus bergerak mengikuti pengalaman pembacanya.

Mungkin di situlah kekuatan sastra berada, yakni bukan pada kemampuannya memberikan jawaban pasti, melainkan pada kemampuannya membuat manusia sadar bahwa dunia selalu tampak berbeda ketika dilihat dari tempat yang berbeda pula.

Bandung, 10 Mei 2026

Bionarasi Penulis

Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

Loading