Tagar Kabur Saja Dulu dan Puisi “Malu Aku Jadi Orang Indonesia”

Opini, Artikel, Sastra

ESAI

*) Heri Isnaini

Fenomena #KaburAjaDulu sesungguhnya bukan gejala yang benar-benar baru.

Ia hanya menemukan medium baru: media sosial. Jauh sebelum tagar itu ramai di linimasa, kegelisahan serupa sebenarnya telah lebih dahulu bergaung dalam puisi-puisi kritik sosial Indonesia. Salah satu suara paling nyaring datang dari Taufiq Ismail melalui puisinya “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.”

Puisi itu lahir dari luka sejarah. Dari rasa kecewa seorang anak bangsa yang pernah begitu bangga terhadap negerinya, tetapi kemudian menyaksikan perlahan-lahan kerusakan moral, hukum, dan sosial di sekitarnya. Dalam salah satu bagian puisinya, Taufiq Ismail menulis: “Dulu dadaku tegap bila aku berdiri/Mengapa sering benar aku merunduk kini.”

Kalimat itu terasa sangat relevan dengan generasi hari ini. Ada perubahan psikologis yang serupa: dari kebanggaan menuju keraguan, dari keyakinan menuju kelelahan. Jika dahulu rasa malu itu lahir karena korupsi, ketidakadilan, dan runtuhnya akhlak sosial, kini rasa itu menjelma dalam bentuk lain: hilangnya kepercayaan terhadap masa depan.

Tagar #KaburAjaDulu pada dasarnya merupakan bentuk kontemporer dari “merunduk” yang ditulis Taufiq Ismail.

Ilustrasi foto: Heri Isnaini.

Bedanya, generasi sekarang hidup dalam dunia digital yang memungkinkan mereka melihat alternatif kehidupan secara langsung. Anak muda Indonesia hari ini bisa menyaksikan bagaimana negara lain memberi penghargaan lebih baik terhadap tenaga kerja, akademisi, peneliti, seniman, maupun pekerja kreatif. Mereka melihat kemungkinan hidup yang lebih sehat, lebih stabil, dan lebih manusiawi di tempat lain. Maka keinginan “kabur” bukan semata-mata soal materi, tetapi juga soal martabat hidup.

Puisi Taufiq Ismail sangat tajam ketika menggambarkan keruntuhan moral bangsa: “Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak/ Hukum tak tegak, doyong berderak-derak.”

Bait itu terasa seperti gema panjang yang masih terdengar hingga sekarang. Sebab generasi muda hari ini tumbuh dalam suasana ketika hukum sering dipersepsi tajam ke bawah dan tumpul ke atas, ketika pendidikan tinggi tidak selalu menjamin kesejahteraan, ketika koneksi sosial kadang lebih menentukan daripada kompetensi. Dalam situasi seperti itu, “kabur” menjadi semacam mekanisme bertahan hidup.

Baca Juga :  Vonis terhadap IB HRS dan Para Ulama akan Jauh dari Rasa Keadilan

Yang menarik, baik puisi Taufiq Ismail maupun fenomena #KaburAjaDulu sama-sama lahir dari cinta yang terluka. Orang yang benar-benar tidak peduli pada negaranya tidak akan merasa malu. Ia juga tidak akan kecewa. Rasa malu justru muncul karena masih ada harapan yang tersisa.

Di sinilah sastra menjadi penting. Sastra tidak hanya merekam keindahan bahasa, tetapi juga denyut psikologis zamannya. Puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” dapat dibaca sebagai dokumen emosional bangsa: catatan tentang bagaimana seorang warga mengalami keterasingan di tanahnya sendiri. Sementara #KaburAjaDulu adalah versi digital dari keterasingan itu menjadi lebih ringkas, lebih viral, tetapi membawa kegelisahan yang sama.

Taufiq Ismail berjalan di berbagai kota dunia sambil menundukkan kepala karena malu menjadi orang Indonesia. Generasi hari ini justru ingin benar-benar pergi ke kota-kota itu: Tokyo, Melbourne, Berlin, Amsterdam, Seoul, atau Toronto. Namun akar emosinya tetap sama: ada rasa kehilangan rumah secara batiniah.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa nasionalisme generasi sekarang berbeda dengan generasi sebelumnya. Dulu, cinta tanah air sering diwujudkan melalui slogan dan romantisme perjuangan. Kini, generasi muda menuntut sesuatu yang lebih konkret, yaitu sistem yang adil, ruang hidup yang sehat, penghargaan terhadap kemampuan, dan masa depan yang memungkinkan untuk dibangun.

Oleh sebab itu, #KaburAjaDulu tidak bisa dijawab hanya dengan tuduhan bahwa anak muda kurang nasionalis. Persoalannya jauh lebih dalam. Ini adalah krisis relasi antara negara dan generasinya sendiri.

Jika dalam puisi Taufiq Ismail rasa malu muncul karena “langit akhlak rubuh”, maka hari ini rasa itu muncul karena banyak anak muda merasa langit harapan semakin rendah.

Dan mungkin, yang paling menyedihkan bukanlah ketika generasi muda memilih pergi, melainkan ketika mereka merasa bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk tetap memiliki masa depan.

Baca Juga :  Ketika Cinta Menjadi Penjara Waktu

Bionarasi Penulis

*) Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

Loading