Buaya Darat dan Kebohongan Semiotis

Opini, Artikel, Sastra

ESAI

*) Heri Isnaini

Ada satu jenis manusia yang tidak pernah benar-benar jatuh cinta, tetapi sangat ahli menciptakan tanda-tanda cinta.

Ia tahu kapan harus mengucapkan “aku merindukanmu”, kapan harus mengirim lagu yang tepat pada pukul dua pagi, kapan harus memakai kutipan puisi agar terdengar melankolis dan dalam. Ia memahami bahwa manusia modern sering kali jatuh bukan kepada kenyataan, melainkan kepada simbol-simbol yang tampak meyakinkan.

Di titik itulah “buaya darat” bekerja. Ia bukan sekadar lelaki yang gemar menggoda banyak perempuan. Ia adalah manipulator tanda. Ia memainkan bahasa, gestur, agama, musik, puisi, bahkan luka, sebagai perangkat semiotis untuk menciptakan ilusi ketulusan.

Mungkin itulah sebabnya banyak buaya darat tampak begitu “meyakinkan”. Mereka tahu bahwa manusia tidak hidup hanya dengan fakta. Manusia hidup dengan makna. Dalam semiotika, tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain. Kata “sayang”, misalnya, bukan cinta itu sendiri, melainkan tanda dari cinta. Begitu pula bunga, lagu, emoji hati, doa panjang selepas salat malam, atau puisi tentang hujan dan kehilangan, semuanya hanyalah representasi.

Masalah muncul ketika tanda dipisahkan dari kenyataan. Buaya darat memahami celah ini dengan sangat baik. Ia menyadari bahwa kebanyakan orang lebih mudah percaya kepada penampilan emosional dibandingkan konsistensi moral. Maka ia mulai membangun citra: tampak religius, tampak setia, tampak terluka, tampak dewasa, tampak memahami perempuan, dan bahkan tampak puitis (dengan mengirimkan lagu romntis, misalnya).

Kata “tampak” menjadi penting. Sebab dalam banyak kasus, buaya darat tidak sedang menjadi sesuatu. Ia sedang memainkan sesuatu. Salah satu strategi paling tua sekaligus paling efektif adalah citra keagamaan. Sebagian buaya darat memahami bahwa agama menghasilkan efek psikologis berupa rasa aman. Lelaki yang tampak rajin ibadah, menggunakan diksi-diksi spiritual, mengutip ayat atau hadis, sering kali lebih mudah dipercaya.

Baca Juga :  Hari Puisi Indonesia 2021

Maka lahirlah romantisme religius: “Aku salat dulu ya?”; “Aku sahur dulu”; atau “Aku mendoakanmu setiap malam.” Kalimat-kalimat itu bekerja bukan karena kebenarannya, tetapi karena simbol moral yang dikandungnya.

Agama akhirnya berubah fungsi, yakni bukan lagi jalan etis, melainkan alat retoris. Di sinilah kebohongan semiotis terjadi, yaitu tanda kesalehan dipakai untuk menyembunyikan hasrat manipulatif. Padahal kesalehan sejati tidak selalu banyak bicara tentang Tuhan. Kadang ia justru hadir dalam kejujuran sederhana.

Buaya darat modern jarang tampil kasar. Ia hadir sebagai pendengar yang baik. Ia tahu perempuan menyukai perhatian detail. Maka ia mengingat tanggal ulang tahun, lagu favorit, warna kesukaan, trauma masa kecil, bahkan kalimat kecil yang pernah diucapkan sambil bercanda.

Semua itu lalu digunakan sebagai amunisi emosional. Ia mengirim lagu-lagu melankolis atau kutipan puisi romantis agar tampak sensitif. Padahal sensitivitas pun kadang hanya estetika. Ia belajar bahwa manusia mudah luluh oleh seseorang yang mampu “mengerti bahasa perasaan”. Maka bahasa dijadikan perangkap.

Puisi kehilangan kesuciannya. Lagu kehilangan kejujurannya.

Kata “rindu” berubah menjadi teknologi pendekatan. Yang menarik, kebohongan semiotis tidak selalu berupa dusta langsung. Kadang ia muncul sebagai penciptaan citra.

Misalnya: mengunggah foto sedang membaca buku filsafat agar tampak intelektual, sengaja terlihat dekat dengan ibunya agar tampak penyayang, membuat status tentang kesepian agar memancing simpati, memakai diksi “healing”, “trauma”, “inner child”, untuk memperoleh legitimasi emosional.

Di era digital, identitas menjadi panggung pertunjukan tanda. Media sosial memungkinkan seseorang membangun versi dirinya yang paling menggoda. Maka buaya darat hari ini tidak lagi hanya berjalan dari satu perempuan ke perempuan lain. Ia beroperasi melalui: story, playlist, caption, repost puisi, emoji, bahkan “last seen”. Cinta berubah menjadi manajemen impresi.

Baca Juga :  Konferensi PWI Kartu Mati dan Mandat?

Mengapa banyak orang tetap terjebak? Karena manusia pada dasarnya ingin dipercaya. Kita ingin percaya bahwa perhatian berarti ketulusan. Kita ingin percaya bahwa lelaki yang peduli itu memiliki hati yang lembut. Kita ingin percaya bahwa orang religius pasti tidak akan menyakiti.

Padahal tanda tidak selalu identik dengan kenyataan. Seseorang bisa terlihat agamis tetapi gemar memanipulasi. Seseorang bisa berkata lembut sambil menghancurkan batin orang lain secara perlahan. Barangkali inilah tragedi terbesar manusia modern, yakni

kita terlalu sering jatuh kepada representasi, bukan realitas.

Pada akhirnya, “buaya darat” bukan hanya persoalan moral individual. Ia adalah gejala budaya. Ia lahir dari dunia yang semakin menuhankan citra. Dunia tempat penampilan emosional lebih dihargai dibanding integritas.

Akibatnya, manusia mulai sulit membedakan: mana perhatian dan mana strategi, mana cinta dan mana performa, atau mana puisi dan mana manipulasi. Di tengah situasi seperti itu, kebohongan tidak lagi hadir sebagai sesuatu yang kasar. Ia hadir dengan wajah lembut: membawakan lagu, mengirim doa, mengutip puisi, dan berkata, “Aku berbeda dari laki-laki lain.” Padahal mungkin, “Ia hanya buaya darat yang sudah belajar semiotika.”

Bionarasi Penulis

Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

Loading