OPINI
*) Ardiansyah
Mencari pekerjaan di Indonesia saat ini bukan lagi sekadar soal mengirim lamaran dan menunggu panggilan wawancara.
Bagi banyak orang, terutama lulusan baru, proses mencari kerja terasa seperti perjuangan panjang yang penuh ketidakpastian. Banyak pelamar sudah mengirim puluhan bahkan ratusan lamaran, tetapi tetap tidak mendapatkan jawaban.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah ketenagakerjaan di Indonesia bukan hanya terletak pada kemampuan individu, tetapi juga pada sistem pasar kerja yang belum sepenuhnya seimbang.
Salah satu penyebab utama sulitnya mencari pekerjaan adalah jumlah pencari kerja yang terus bertambah, sementara lapangan kerja yang tersedia tidak berkembang secepat itu.
Setiap tahun, sekolah, kampus, dan lembaga pendidikan meluluskan banyak tenaga kerja baru. Namun, tidak semua sektor industri mampu menyerap mereka. Akibatnya, persaingan menjadi sangat ketat. Satu posisi pekerjaan bisa diperebutkan oleh ratusan pelamar dengan latar belakang pendidikan yang hampir sama.
Selain itu, terdapat masalah ketidaksesuaian antara kemampuan pencari kerja dan kebutuhan perusahaan. Banyak lulusan memiliki ijazah, tetapi belum tentu memiliki keterampilan praktis yang dibutuhkan dunia kerja.
Perusahaan saat ini tidak hanya mencari orang yang memiliki nilai akademik bagus, tetapi juga mereka yang mampu berkomunikasi dengan baik, menguasai teknologi, memiliki pengalaman magang, mampu bekerja dalam tim, dan cepat beradaptasi. Di sinilah terlihat adanya jarak antara dunia pendidikan dan dunia industri.
Masalah lain yang sering dihadapi pencari kerja adalah syarat lowongan yang terkadang tidak realistis. Banyak lowongan untuk posisi pemula, tetapi tetap meminta pengalaman kerja satu sampai tiga tahun. Hal ini tentu menyulitkan fresh graduate yang baru saja menyelesaikan pendidikan. Mereka ingin mencari pengalaman, tetapi justru ditolak karena belum berpengalaman. Kondisi ini membuat banyak anak muda merasa terjebak dalam lingkaran yang tidak adil.
Tidak hanya itu, kualitas pekerjaan yang tersedia juga menjadi persoalan. Memang ada lowongan kerja, tetapi tidak semuanya menawarkan upah yang layak, jenjang karier yang jelas, atau perlindungan kerja yang memadai. Banyak pekerja akhirnya menerima pekerjaan apa saja demi bertahan hidup, meskipun tidak sesuai dengan bidang pendidikan atau minatnya. Hal ini memperlihatkan bahwa persoalan ketenagakerjaan bukan hanya tentang “ada atau tidaknya pekerjaan”, tetapi juga tentang kualitas pekerjaan itu sendiri.
Menurut saya, pemerintah, dunia pendidikan, dan dunia industri harus bekerja sama lebih serius untuk mengatasi masalah ini. Sekolah dan perguruan tinggi perlu menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan zaman. Pelatihan keterampilan digital, komunikasi, kewirausahaan, dan praktik kerja nyata harus diperkuat. Perusahaan juga perlu membuka lebih banyak kesempatan magang dan program pelatihan bagi lulusan baru, bukan hanya mencari tenaga kerja yang sudah “siap pakai”.
Di sisi lain, pencari kerja juga perlu terus meningkatkan kemampuan diri. Mengandalkan ijazah saja tidak cukup. Anak muda perlu membangun portofolio, mengikuti pelatihan, memperluas jaringan, belajar teknologi, dan berani mencoba peluang baru, termasuk freelance, usaha kecil, atau pekerjaan berbasis digital. Dunia kerja berubah cepat, sehingga kemampuan untuk terus belajar menjadi sangat penting.
Membludaknya Pelamar Kerja untuk Posisi Manajer KDMP
Salah satu contoh nyata sulitnya mencari pekerjaan di Indonesia terlihat dari rekrutmen Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih atau KDMP tahun 2026.
Pemerintah membuka sekitar 30.000 formasi untuk posisi Manajer KDMP. Namun, jumlah pelamar yang mendaftar jauh melampaui kuota yang tersedia.
Pada awal masa pendaftaran saja, jumlah pelamar sudah mencapai sekitar 383 ribu orang. Bahkan hingga penutupan pendaftaran, jumlah peminat dilaporkan mencapai sekitar 639 ribu pelamar, dengan ratusan ribu di antaranya dinyatakan memenuhi syarat administrasi. Angka ini menunjukkan bahwa satu posisi dapat diperebutkan oleh banyak orang sekaligus.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa kesempatan kerja yang dianggap stabil dan menjanjikan masih sangat diminati masyarakat. Posisi Manajer KDMP menarik perhatian karena menawarkan status kerja di bawah naungan BUMN melalui PT Agrinas Pangan Nusantara, meskipun sistem kerjanya berbentuk kontrak selama dua tahun. Selain itu, persyaratan yang cukup terbuka, seperti lulusan D3/D4/S1 dari berbagai jurusan dan usia maksimal 35 tahun, membuat banyak pencari kerja merasa memiliki peluang untuk mendaftar.
Membludaknya pelamar juga sampai berdampak pada sistem pendaftaran daring. Karena terlalu banyak orang mengakses portal pendaftaran dalam waktu bersamaan, situs sempat mengalami gangguan. Hal ini memperlihatkan betapa besar tekanan dan antusiasme masyarakat terhadap lowongan kerja yang dianggap memiliki prospek baik.
Kasus ini menggambarkan bahwa masalah ketenagakerjaan di Indonesia bukan hanya soal kurangnya minat bekerja, tetapi juga soal jumlah pencari kerja yang jauh lebih besar dibandingkan lapangan kerja yang tersedia. Banyak lulusan baru maupun pencari kerja berpengalaman berlomba-lomba mendapatkan posisi yang jumlahnya terbatas. Akibatnya, persaingan menjadi sangat ketat, bahkan untuk pekerjaan kontrak sekalipun.
Dari kasus Manajer KDMP ini, dapat disimpulkan bahwa masyarakat masih sangat membutuhkan lapangan kerja yang layak, stabil, dan memiliki kepastian penghasilan.
Pemerintah dan dunia usaha perlu terus memperluas kesempatan kerja, tidak hanya dalam jumlah besar, tetapi juga dengan kualitas pekerjaan yang baik agar tidak terjadi penumpukan pelamar pada sedikit lowongan yang dianggap menjanjikan.
Sulitnya mencari pekerjaan di Indonesia adalah masalah kompleks yang tidak bisa hanya disalahkan kepada pencari kerja. Persoalan ini berkaitan dengan terbatasnya lapangan kerja, ketidaksesuaian keterampilan, kualitas pendidikan, syarat rekrutmen, serta kondisi ekonomi.
Namun, dengan kerja sama antara pemerintah, lembaga pendidikan, industri, dan masyarakat, peluang kerja yang lebih adil dan berkualitas masih bisa diwujudkan.
Mencari kerja memang sulit, tetapi bukan berarti tidak mungkin jika sistemnya diperbaiki dan sumber daya manusianya terus dikembangkan. (***)
![]()
