ESAI
*) Heri Isnaini
Ada sesuatu yang selalu terasa sendu dalam takbir Iduladha.
Entah mengapa setiap gema takbir pada hari itu terdengar berbeda dibanding hari raya lainnya. Ia seperti membawa suara manusia yang sedang belajar menerima kehilangan. Ada nada kepasrahan yang berjalan pelan di dalamnya. Ada kesedihan yang tidak sepenuhnya ingin disembunyikan.
Barangkali karena Iduladha memang lahir dari kisah pengorbanan yang sangat manusiawi, yaitu tentang cinta yang diuji oleh keikhlasan, tentang seseorang yang harus rela kehilangan sesuatu yang paling dicintainya.
Dan bukankah kehidupan manusia modern juga penuh dengan bentuk-bentuk pengorbanan seperti itu?

Seorang guru menghabiskan hidupnya demi murid-murid yang mungkin tidak akan mengingat namanya. Petani mengorbankan tubuhnya di bawah matahari agar kota tetap memiliki makanan. Seorang ibu mengorbankan waktunya bertahun-tahun demi anak yang suatu hari akan tumbuh dewasa dan pergi jauh.
Namun, dunia hari ini terlalu sibuk menghitung keberhasilan hingga lupa menghormati pengorbanan. Kita hidup dalam masyarakat yang lebih tertarik pada hasil dibanding proses luka di belakangnya. Orang ingin melihat pencapaian, tetapi malas memahami air mata yang menyertainya. Semua berlomba menjadi terlihat penting, padahal banyak kehidupan justru ditopang oleh orang-orang yang tidak pernah dianggap istimewa.
Di situlah sastra hadir dan menjadi penting. Sastra menyelamatkan hal-hal kecil yang sering diabaikan sejarah. Ia menyimpan percakapan yang gagal diucapkan. Menyimpan kesepian manusia yang tidak pernah benar-benar dimengerti siapa pun. Menyimpan air mata yang tidak jadi jatuh.
Dan Iduladha terasa seperti sebuah cerpen panjang tentang manusia yang sedang belajar mengalahkan egonya sendiri. Saya sering memperhatikan wajah-wajah sederhana saat pembagian daging kurban. Anak kecil yang tersenyum hanya karena menerima beberapa potong daging. Lelaki tua yang duduk kelelahan setelah membantu penyembelihan sejak pagi. Ibu-ibu yang memasak dengan wajah bahagia meski hidup mereka sendiri tidak mudah.
Mereka mungkin tidak pernah membaca teori sastra. Tidak pernah datang ke festival literasi. Tidak pernah menulis puisi. Tetapi hidup mereka sendiri sudah sangat puitis dan sangat sastrawi.
Sastra sendiri, sejatinya bukan sekadar permainan diksi atau metafora rumit. Sastra adalah kemampuan manusia merasakan penderitaan orang lain sebagai bagian dari dirinya sendiri. Dan Iduladha mengajarkan itu dengan sangat sederhana.
Seekor hewan dikorbankan agar banyak manusia bisa makan. Ada gagasan besar tentang keadilan sosial di sana. Tentang berbagi. Tentang kesediaan mengurangi milik pribadi demi kebahagiaan bersama.
Mungkin itulah sebabnya saya selalu merasa Iduladha bukan hanya peristiwa religius, melainkan juga peristiwa kebudayaan dan bahasa. Ia mengingatkan manusia bahwa kata “ikhlas” bukan sekadar kosakata dalam kamus, tetapi latihan panjang untuk menjadi lebih manusiawi.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak akan dikenang karena seberapa banyak yang berhasil ia simpan, melainkan karena seberapa tulus ia pernah memberi.
Bionarasi Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.
![]()
