Pembelajaran Hikayat di Sekolah: Merawat Imajinasi, Tradisi, dan Nilai Kemanusiaan

Opini, Artikel, Sastra

ESAI

*) Heri Isnaini

Di tengah derasnya arus konten digital yang serba cepat, pembelajaran sastra lama seperti hikayat sering kali dianggap usang, jauh dari dunia siswa, bahkan tidak relevan dengan kehidupan modern.

Padahal, justru di dalam hikayat tersimpan banyak hal yang hari ini mulai hilang dari kehidupan generasi muda, yaitu kesabaran membaca, kemampuan berimajinasi, penghormatan terhadap tradisi, serta pemahaman tentang nilai moral dan budaya.

Hikayat bukan sekadar cerita lama dengan bahasa yang sulit dipahami. Hikayat adalah jejak peradaban. Ia lahir dari masyarakat Melayu klasik yang memandang cerita sebagai sarana pendidikan, hiburan, sekaligus pewarisan nilai-nilai sosial. Dalam hikayat, kita menemukan keberanian, cinta, pengorbanan, kesetiaan, religiositas, hingga kritik terhadap kekuasaan. Karena itu, pembelajaran hikayat di sekolah semestinya tidak berhenti pada hafalan definisi atau identifikasi unsur intrinsik semata. Hikayat harus dihidupkan sebagai pengalaman membaca yang bermakna.

Salah satu persoalan utama dalam pembelajaran hikayat di sekolah adalah pendekatan yang terlalu tekstual dan formalistik. Siswa sering diminta mencari tokoh, latar, alur, atau amanat tanpa diajak memahami mengapa cerita itu lahir dan apa relevansinya dengan kehidupan mereka hari ini. Akibatnya, hikayat terasa seperti artefak museum yang hanya dipandang, tetapi tidak disentuh secara emosional.

Padahal, jika diajarkan dengan pendekatan yang kreatif, hikayat memiliki potensi besar untuk membangun literasi budaya dan daya imajinasi siswa. Guru dapat memulai pembelajaran dengan mengaitkan hikayat dengan budaya populer yang dekat dengan kehidupan remaja. Misalnya, banyak film fantasi modern sebenarnya memiliki pola cerita yang mirip dengan hikayat: tokoh utama menjalani perjalanan panjang, menghadapi ujian, memperoleh pertolongan ajaib, lalu mencapai kemenangan. Dengan cara ini, siswa akan memahami bahwa hikayat bukan sesuatu yang asing, melainkan bagian dari tradisi naratif yang masih hidup hingga sekarang.

Baca Juga :  Membongkar Mitos Seksualitas Laki-Laki Dalam Kasus Pelecehan Digital

Selain itu, pembelajaran hikayat dapat dikembangkan melalui metode transformasi kreatif. Siswa tidak hanya membaca teks, tetapi juga diminta mengalihwahanakan hikayat menjadi drama pendek, komik digital, video naratif, podcast cerita, atau bahkan konten media sosial. Ketika siswa mengubah hikayat menjadi bentuk baru, mereka sebenarnya sedang melakukan dialog antara tradisi dan modernitas. Di sinilah pembelajaran sastra menjadi hidup.

Misalnya, cerita dalam Hikayat Hang Tuah dapat dipentaskan ulang dengan latar sekolah modern. Konflik tentang kesetiaan, kekuasaan, dan persahabatan dalam hikayat tersebut tetap relevan dengan kehidupan remaja masa kini. Begitu pula Hikayat Bayan Budiman yang kaya dengan cerita berbingkai dan nasihat moral dapat dijadikan bahan untuk melatih keterampilan bercerita siswa.

Pembelajaran hikayat juga penting dalam membangun identitas budaya. Generasi muda hari ini mengenal begitu banyak tokoh dari budaya populer luar negeri, tetapi sering tidak akrab dengan tokoh-tokoh dalam sastra Nusantara. Padahal, hikayat adalah bagian dari ingatan kolektif bangsa. Melalui hikayat, siswa belajar bahwa nenek moyang mereka telah memiliki tradisi literasi dan imajinasi yang kaya jauh sebelum era digital hadir.

Namun demikian, guru perlu menyadari bahwa tantangan terbesar dalam mengajarkan hikayat adalah bahasa. Banyak teks hikayat menggunakan bahasa Melayu klasik yang sulit dipahami siswa. Oleh sebab itu, guru dapat menggunakan versi adaptasi tanpa menghilangkan ruh cerita aslinya. Yang paling penting bukan sekadar mempertahankan bentuk bahasa lama secara kaku, melainkan menghadirkan pengalaman estetik dan nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya.

Dalam konteks pendidikan modern, pembelajaran hikayat sebenarnya memiliki fungsi yang sangat strategis. Hikayat melatih siswa membaca secara mendalam, memahami simbol, menangkap nilai moral, serta mengembangkan empati terhadap kehidupan manusia. Di tengah budaya instan yang cenderung dangkal, hikayat mengajarkan bahwa cerita adalah ruang perenungan.

Baca Juga :  Ratusan Ribu Pelamar Manajer KDMP, Potret Buramnya Mencari Kerja di Indonesia

Karena itu, pembelajaran hikayat di sekolah tidak boleh dipandang sebagai kewajiban kurikulum semata. Ia harus diposisikan sebagai upaya merawat warisan budaya sekaligus membangun kepekaan batin siswa. Sebab, sekolah bukan hanya tempat mencetak manusia yang cerdas secara akademik, melainkan juga manusia yang mampu memahami nilai, tradisi, dan kemanusiaan.

9 Mei 2026

Bionarasi Penulis

Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

Loading