Opini Ditulis Oleh: Shi Lhun (*)
Di bawah temaram lampu Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan bunyi denting kunci besi biasanya menandakan berakhirnya hari bagi para penghuni. Namun, bagi segelintir narapidana narkotika dengan pundi-pundi rupiah yang tak berseri.
Bukan lagi menjadi tempat penebusan dosa, banyak Lapas dan Rutan di tanah air yang perlahan bersalin rupa menjadi benteng perlindungan paling aman bagi para pelaku narkoba. Di sini, ironi tumbuh subur, mereka yang seharusnya dikurung agar berhenti, justru kian menjadi karena dilayani.
Surga ini tidak akan pernah tercipta tanpa kunci yang dipegang oleh orang dalam. Bukan rahasia lagi bahwa integritas seringkali luntur di hadapan tumpukan uang yang jauh melampaui gaji bulanan seorang abdi negara.
Keterlibatan oknum petugas menjadi pelumas utama mesin bisnis ini. Peran mereka beragam, mulai dari yang terlihat sepele hingga yang sangat krusial.
Kurir komunikasi, menyelundupkan android tercanggih agar bandar bisa memantau pergerakan pasar dari balik sel.
Penyedia logistik menjadi perantara masuknya paket narkoba lewat jalur “khusus” yang bebas dari pemeriksaan ketat. Informasi menyesatkan mencoba membocorkan jadwal inspeksi mendadak (sidak) sehingga barang bukti selalu hilang bak ditelan bumi saat petugas gabungan datang.
Bahasa yang pantas diberikan “Uang bisa mengubah pandangan mata. Dari yang seharusnya mengawasi, menjadi mengawal. Dari yang seharusnya mengunci, menjadi membukakan jalan.
Bagi penghuni kelas kakap, sel bukan lagi ruang sempit yang pengap. Koordinasi kerap dilakukan dengan oknum, untuk fasilitas sebuah kamar tahanan bisa berubah menjadi unit apartemen mini. Lantai keramik yang bersih dan alat komunikasi.
Di ruangan-ruangan inilah, kendali peredaran narkoba di luar sana disusun. Lapas dan Rutan berubah menjadi surga sebuah bunker yang melindungi mereka dari kejaran polisi dan persaingan antar-geng di jalanan, karena mereka berada di bawah perlindungan institusi negara itu sendiri.
Narasi bahwa penjara adalah tempat yang menakutkan bagi pengedar narkoba tampaknya mulai usang. Selama oknum petugas masih bisa dibeli, selama itu pula Lapas dan Rutan hanya akan menjadi “Gedung Nyaman” dengan pengamanan ekstra dari negara.
Tembok penjara kian keropos oleh suap, maka upaya memerangi narkoba di luar sana tak lebih dari sekadar menggarami air laut. Musuh terbesar negara hari ini bukanlah mereka yang ada di balik jeruji, melainkan mereka yang mengenakan seragam, memegang kunci, namun menjual kehormatan demi gaya hidup di balik penderitaan bangsa. (**)
Catatan Redaksi: (*) penulis merupakan salah seorang wartawan aktif yang ada di Kabupaten Lampung Utara.
![]()
