LUMAJANG (RNSI) – Selama puluhan tahun, kebesaran nama Kabupaten Lumajang sebagai salah satu lumbung pisang terbesar di Jawa Timur hanya dilihat dari manisnya buah yang dikonsumsi masyarakat.
Pisang Mas Kirana dan Pisang Agung Semeru telah lama menjadi tulang punggung ekonomi warga sekaligus identitas kebanggaan daerah. Namun, di balik kesuksesan itu, ada satu bagian yang selama ini dibuang begitu saja, yakni kulit pisang.
Kini, pandangan itu mulai berubah drastis seiring temuan ilmiah yang membuktikan bahwa limbah tersebut justru menyimpan harta karun yang belum tergali.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lumajang tahun 2024 mencatat, produksi pisang di daerah ini menyentuh angka 115,6 ribu ton, yang dihasilkan dari lahan seluas sekitar 3,1 ribu hektare. Angka fantastis ini berbanding lurus dengan volume limbah kulit pisang yang terbuang percuma ke tempat pembuangan akhir setiap harinya. Padahal, hasil kajian ilmiah menunjukkan bahwa apa yang dianggap sampah itu sesungguhnya adalah bahan baku berharga yang kaya akan kandungan senyawa aktif.
Bagi Lili, salah satu pelopor pengembangan Pisang Mas Kirana di Lumajang, temuan ini ibarat membuka pintu gerbang baru bagi pertanian daerah. Selama ini, nilai ekonomi pisang hanya berhenti pada buahnya. Namun, riset yang dilakukan Dwi Nur Rikhma Sari dan David Kristian Susilo pada tahun 2017 mengubah cara pandang tersebut. Penelitian itu mengungkapkan, kulit Pisang Mas Kirana mengandung senyawa fenol, saponin, dan terpen. Sementara itu, kulit Pisang Agung Semeru memiliki kandungan yang lebih lengkap lagi, yakni fenol, saponin, terpen, serta alkaloid.
“Sekarang kita menyadari bahwa pisang bukan hanya buah yang dimakan. Kulitnya pun punya potensi besar jika dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Ini bukan sekadar penemuan ilmiah, tapi peluang emas bagi masa depan ekonomi pertanian Lumajang,” ungkap Lili, Minggu (31/5/2026).
Secara ilmiah, kandungan tersebut sangat bernilai. Senyawa fenol dikenal ampuh sebagai antioksidan dan antimikroba. Saponin memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan mikroorganisme, sedangkan terpen dan alkaloid adalah senyawa yang sangat dicari dalam dunia riset kesehatan dan farmasi. Meskipun belum bisa langsung dijadikan produk jadi dan masih butuh penelitian lanjutan, arah pengembangannya sangat jelas dan menjanjikan.
Pemanfaatan kulit pisang pun tidak terbatas pada dunia kesehatan saja. Di berbagai tempat, limbah ini sudah mulai diolah menjadi tepung bernutrisi, bahan tambahan pangan kaya antioksidan, hingga media fermentasi dalam industri bioteknologi. Langkah ini sangat sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, di mana tidak ada yang sia-sia; limbah diubah menjadi uang dan nilai tambah.
Bagi Lumajang, peluang ini datang di waktu yang tepat. Pengembangan kulit pisang menjadi produk turunan akan memperkuat hilirisasi pertanian, sehingga daerah tidak lagi hanya bergantung pada penjualan buah segar. Dengan dukungan riset yang berkelanjutan, inovasi teknologi, dan kolaborasi antara pemerintah, peneliti, serta petani, potensi ekonomi pisang akan meluas berkali-kali lipat.
Kisah kulit pisang ini menjadi pelajaran berharga: kekayaan potensi daerah sering kali tersembunyi pada hal yang selama ini kita abaikan. Kini, Lumajang berdiri di ambang transformasi baru, siap membuktikan bahwa pisang Mas Kirana dan Agung Semeru bisa memberi manfaat jauh lebih besar dari sekadar rasa manis buahnya.(sumber: infopublik.id/MC Kab. Lumajang/Ard/An-m/disunting/red)
![]()
