ESAI
*) Heri Isnaini
Barangkali saya terlambat menyadari bahwa Islam Jawa tidak pertama-tama saya temukan di masjid, pesantren, atau kitab-kitab agama. Saya justru menemukannya di dalam sastra.
Di halaman-halaman teks lama, di antara bait-bait puisi yang tampak sederhana, dalam hikayat, serat, mantra, dan cerita rakyat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, saya menemukan cara orang Jawa memahami Tuhan, kehidupan, dan dirinya sendiri. Cara itu tidak selalu hadir dalam bentuk hukum-hukum yang tegas, melainkan dalam simbol, petuah, perjalanan, dan laku batin.
Karena itulah saya sering berpikir bahwa Islam Jawa sesungguhnya adalah sebuah ideologi kebudayaan. Ia bukan ideologi dalam pengertian politik yang kaku, melainkan seperangkat nilai yang mengarahkan manusia dalam memandang dunia. Nilai-nilai itu hidup dalam bahasa, tradisi, dan terutama sastra.
Sastra, dalam konteks ini, bukan sekadar karya estetis. Sastra adalah ruang tempat suatu masyarakat menyimpan pandangan hidupnya. Apa yang diyakini, ditakuti, dicintai, dan diharapkan oleh masyarakat sering kali lebih jelas terlihat dalam sastra daripada dalam dokumen sejarah. Melalui sastra, kita dapat membaca bagaimana Islam berjumpa dengan budaya Jawa, bernegosiasi dengannya, lalu melahirkan bentuk ekspresi yang khas.
Ketika membaca “Syair Perahu” karya Hamzah Fansuri, misalnya, saya menemukan gambaran manusia sebagai musafir yang sedang berlayar menuju Tuhan. Perahu bukan lagi sekadar alat transportasi, melainkan tubuh dan kehidupan itu sendiri. Laut adalah dunia yang penuh gelombang. Pelabuhan adalah tempat kembali yang hakiki.
Pandangan seperti ini sangat dekat dengan cara masyarakat Jawa memandang hidup sebagai lelakon (perjalanan). Hidup bukan perlombaan untuk menjadi yang paling berhasil, melainkan perjalanan panjang untuk mengenali diri sendiri. Dalam ungkapan Jawa dikenal istilah “eling lan waspada” (ingat dan waspada). Dua kata yang sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung filsafat hidup yang panjang.
Saya teringat pada “Serat Centhini”. Tokoh-tokohnya berjalan dari satu tempat ke tempat lain, bertemu banyak orang, mempelajari banyak hal. Namun tujuan sebenarnya bukanlah perjalanan fisik. Mereka sedang menempuh perjalanan batin. Mereka sedang belajar menjadi manusia.
Di titik inilah sastra menjadi rumah bagi ideologi Islam Jawa. Islam Jawa tidak melihat pengetahuan sebagai tumpukan informasi. Pengetahuan adalah laku. Orang tidak dianggap bijaksana karena banyak membaca, melainkan karena mampu menghayati apa yang dibacanya. Dalam tradisi Jawa, seseorang harus menjalani tirakat, prihatin, dan pengendalian diri agar pengetahuan dapat menjelma menjadi kebijaksanaan.
Pandangan tersebut ternyata dapat ditemukan pula dalam puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Ketika orang menyebut Sapardi, yang sering muncul pertama kali adalah puisi cinta. Padahal, jika dibaca lebih dalam, puisi-puisinya menyimpan lapisan spiritual yang kuat. Bahkan dalam penelitian saya terdahulu mengenai ideologi Islam Jawa dalam kumpulan puisi “Mantra Orang Jawa”, saya menemukan bahwa puisi-puisi Sapardi bukan sekadar transformasi mantra tradisional ke dalam puisi modern. Di dalamnya tersimpan pandangan dunia Islam Jawa yang bekerja melalui simbol, pengalaman religius, dan kesadaran kosmologis.
Kumpulan “Mantra Orang Jawa” sangat menarik karena memperlihatkan bagaimana tradisi Jawa dan Islam bertemu dalam bahasa puisi. Mantra-mantra yang semula hidup dalam tradisi lisan diolah kembali menjadi puisi modern tanpa kehilangan ruh spiritualnya. Di sana tampak bahwa masyarakat Jawa memandang kata bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga medium yang menghubungkan manusia dengan kekuatan yang lebih besar.
Dalam salah satu puisi, Sapardi menulis:/ Bismillah/ kulihat wajah-Mu/ dalam ruang mana/ kiri dan kanan/. Puisi ini menunjukkan kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam segala ruang kehidupan. Dalam tradisi Islam Jawa, Tuhan tidak selalu dicari di tempat yang jauh dan tinggi. Ia hadir dalam keseharian, dalam alam, dalam diri manusia, bahkan dalam keheningan. Pemahaman semacam ini sangat dekat dengan spiritualitas tasawuf yang berkembang dalam kebudayaan Jawa.
Namun jejak ideologi Islam Jawa dalam karya Sapardi tidak hanya tampak dalam “Mantra Orang Jawa”. Ia juga mengalir secara halus dalam puisi-puisi lirisnya yang lebih populer.
Perhatikan puisi “Aku Ingin”. /Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan kata yang tak sempat diucapkan/ kayu kepada api yang menjadikannya abu/
Puisi ini sering dibaca sebagai puisi cinta. Akan tetapi, melalui perspektif Islam Jawa, puisi tersebut dapat dibaca sebagai metafora peleburan diri. Kayu yang menjadi abu mengingatkan kita pada konsep fana dalam tasawuf, yakni lenyapnya ego demi mencapai cinta yang lebih tinggi.
Dalam tradisi Jawa, perjalanan spiritual selalu menuntut pengurangan diri. Semakin seseorang dekat kepada Yang Mahakuasa, semakin kecil pula keakuannya. Karena itu, cinta dalam puisi Sapardi bukan hanya relasi antarmanusia, tetapi juga dapat dibaca sebagai kerinduan manusia kepada sumber keberadaannya.
Puisi lain yang menarik adalah “Pada Suatu Hari Nanti”. /Pada suatu hari nanti/ jasadku tak akan ada lagi/ tetapi dalam bait-bait sajak ini/ kau tak akan kurelakan sendiri/
Puisi ini berbicara tentang kematian dengan nada yang tenang. Tidak ada kepanikan. Tidak ada ketakutan. Yang ada hanyalah penerimaan.
Cara menerima kematian seperti ini sangat dekat dengan konsep Jawa tentang “sangkan paraning dumadi”, yakni kesadaran bahwa manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Dalam pandangan Islam Jawa, kematian bukan akhir perjalanan. Kematian adalah pulang.
Barangkali karena itulah puisi-puisi Sapardi sering terasa teduh. Ia tidak berteriak. Ia tidak menggurui. Ia tidak memaksa pembaca menerima suatu ajaran. Namun, justru melalui kesederhanaan itu, ia menyampaikan pandangan hidup yang mendalam.
Hal yang sama dapat ditemukan dalam puisi-puisi hujannya. Hujan dalam puisi Sapardi bukan sekadar fenomena cuaca. Ia menjadi simbol rahmat, kesunyian, penyucian, dan pertemuan. Dalam kosmologi Jawa, alam bukan benda mati. Alam adalah sahabat dialog manusia. Hujan, angin, sungai, dan pepohonan merupakan bagian dari jaringan makna yang menghubungkan manusia dengan semesta.
Sebab itu, ketika Sapardi menulis tentang hujan, sesungguhnya ia sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam daripada hujan itu sendiri. Ia sedang berbicara tentang hubungan manusia dengan kehidupan.
Di sinilah saya melihat kekuatan sastra sebagai ruang ideologi. Ideologi Islam Jawa tidak selalu hadir melalui simbol-simbol agama yang eksplisit. Ia tidak harus berupa ayat, hadis, atau terminologi keagamaan yang langsung dikenali. Ia dapat hadir dalam cara tokoh menerima penderitaan. Dalam cara manusia memandang alam. Dalam kesadaran akan kematian. Dalam pencarian makna hidup. Bahkan dalam sebaris puisi tentang hujan yang jatuh diam-diam di halaman rumah.
Sebab itu, kesalahan terbesar ketika membaca Islam Jawa adalah menganggapnya sekadar sinkretisme atau campuran budaya. Cara pandang seperti itu terlalu menyederhanakan kenyataan. Islam Jawa adalah hasil dialog panjang antara agama dan kebudayaan. Ia adalah bentuk kreativitas peradaban dalam memahami wahyu melalui pengalaman lokal.
Sastra merekam proses itu dengan sangat baik. Melalui “Serat Centhini”, kita melihat perjalanan spiritual. Melalui mantra-mantra Jawa, kita melihat hubungan manusia dengan alam dan Yang Gaib. Melalui “Mantra Orang Jawa”, kita melihat transformasi tradisi ke dalam puisi modern. Melalui puisi-puisi Sapardi, kita melihat bagaimana spiritualitas Islam Jawa hidup dalam bahasa yang sederhana, tetapi menyimpan kedalaman yang nyaris tak habis dibaca.
Pada akhirnya, membaca sastra bukan hanya membaca cerita atau puisi. Kita sedang membaca cara suatu masyarakat memahami dunia. Kita sedang membaca jejak-jejak pemikiran yang diwariskan dari masa lalu.
Dan setiap kali saya membaca karya-karya Sapardi, saya selalu menemukan pelajaran yang sama bahwa perjalanan paling jauh yang dapat ditempuh manusia bukanlah perjalanan ke luar dirinya, melainkan perjalanan ke dalam dirinya sendiri.
Mungkin di situlah Islam Jawa terus bertahan. Bukan dalam slogan. Bukan dalam perdebatan. Melainkan dalam kata-kata yang sederhana, dalam hujan yang jatuh perlahan, dalam doa yang tidak berhenti, dan dalam sastra yang terus dibaca. (**)
Bionarasi Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.
![]()
