Dari ABCD ke QWERTY: Ketika Manusia Mulai Belajar kepada Mesin

Opini, Artikel, Sastra

ESAI

*) Heri Isnaini

Suatu hari saya memperhatikan keyboard laptop dengan agak lama.

Jari-jari saya bergerak begitu saja di atas huruf-huruf yang tidak beraturan: Q-W-E-R-T-Y. Saya tiba-tiba berpikir, mengapa manusia rela menerima susunan yang tampak kacau itu? Mengapa bukan A-B-C-D seperti yang diajarkan sejak kecil?

Pertanyaan sederhana itu ternyata membawa saya pada sesuatu yang lebih besar, yakni hubungan manusia, bahasa, dan teknologi. Alfabet pada mulanya adalah lambang keteraturan. Sejak kecil kita diajarkan bahwa huruf memiliki urutan. A datang sebelum B. B sebelum C. Begitulah bahasa bekerja dengan tertata dan berjenjang. Bahkan nyanyian anak-anak pun dibangun dari keteraturan alfabetis. Ada rasa tenang dalam urutan itu. Seolah dunia dapat dipahami dengan menyebut huruf demi huruf.

Ilustrasi foto: Heri Isnaini.

Namun, semua berubah ketika manusia menciptakan mesin tik. Mesin ternyata tidak membutuhkan keindahan alfabet. Mesin membutuhkan efisiensi mekanis. Huruf-huruf yang terlalu sering dipencet dan berdekatan bisa menyebabkan batang-batang logam di mesin tik saling bertabrakan. Maka susunan alfabet dikorbankan. Huruf-huruf dipindahkan. Dijauhkan. Diacak. Dan, lahirlah QWERTY.

Di titik itu, saya merasa manusia mulai mengubah kebiasaan bahasanya demi menyesuaikan diri kepada mesin. Kita menerima kekacauan itu perlahan-lahan. Mula-mula mungkin terasa asing. Tetapi generasi demi generasi kemudian tumbuh bersama QWERTY. Anak-anak belajar mengetik tanpa pernah mempertanyakan mengapa huruf-huruf itu tidak tersusun alfabetis. Kita menghafal posisi huruf seperti menghafal jalan pulang. Jari-jari lebih cepat mengenali letak “A” di bawah jari kelingking daripada mengingat bahwa ia adalah huruf pertama dalam alfabet.

Teknologi akhirnya bukan hanya alat bantu, melainkan pembentuk kebiasaan manusia. Hal ini mengingatkan saya pada banyak hal dalam kehidupan modern. Kita hidup di zaman ketika manusia semakin sering menyesuaikan diri pada sistem yang diciptakannya sendiri. Jam kerja mengikuti ritme mesin. Bahasa mengikuti ritme media sosial. Bahkan perhatian manusia kini diatur oleh notifikasi dan algoritma.

Baca Juga :  Bekerjalah Dengan Hati Yang Bersih

QWERTY tampaknya sederhana, tetapi ia adalah metafora besar tentang peradaban modern. Alfabet adalah simbol manusia yang ingin menata dunia.

QWERTY adalah simbol manusia yang mulai berkompromi dengan ciptaannya sendiri.

Di dalam sastra, perubahan seperti ini sesungguhnya menarik untuk dibaca. Bahasa bukan hanya kumpulan kata, melainkan jejak kebudayaan. Ketika tata letak huruf berubah karena teknologi, sesungguhnya cara manusia berinteraksi dengan bahasa juga ikut berubah. Menulis tidak lagi hanya persoalan gagasan, tetapi juga persoalan kecepatan jari, ritme tombol, dan efisiensi.

Mungkin karena itulah tulisan-tulisan modern terasa lebih cepat, lebih pendek, lebih tergesa-gesa. Kita hidup di dunia QWERTY, “Dunia yang bergerak menurut irama mesin.” Tetapi di sisi lain, manusia tetap makhluk yang aneh. Kita mampu menemukan puisi bahkan di tengah benda mekanis seperti keyboard.

Dari tombol-tombol yang dingin itu lahir surat cinta, doa, novel, manifesto, dan puisi-puisi kesepian pada tengah malam. Mesin memang mengubah kebiasaan manusia, tetapi manusia selalu punya cara untuk menyisipkan jiwa ke dalam benda-benda yang tampaknya tidak bernyawa itu.

Barangkali itulah yang paling menarik. Bahwa di tengah dunia yang semakin mekanis, manusia tetap diam-diam mencari makna. Dan mungkin, setiap kali kita mengetik di atas keyboard QWERTY, kita sedang mengulangi sejarah panjang tentang bagaimana manusia belajar hidup bersama teknologi. Meski harus kehilangan sedikit keteraturan alfabet yang dulu begitu akrab di masa kanak-kanak.

Bionarasi Penulis

Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

Loading