Feature ditulis oleh Riki Purnama
Matahari mulai meninggi, menyengat punggung para petani yang sedang sibuk memanen singkong di ladang. Delapan bulan lamanya mereka menunggu, merawat tanaman itu dengan penuh harap. Menyiangi rumput liar, memupuk, hingga menjaganya dari hama. Namun, senyum lebar yang diharapkan tak kunjung terbit. Yang ada justru tanda tanya besar dan kecewa yang mendalam di hati.
Bagi petani, singkong bukan sekadar tanaman, melainkan “teman setia” yang diandalkan untuk menyambung hidup. Namun belakangan ini, “teman” tersebut seolah berbalik arah. Harga jual yang jatuh bebas tak sebanding dengan biaya perawatan yang terus membengkak.
Ironisnya, saat harga singkong di pasaran sudah mulai membaik namun masih jauh dari harapan pasalnya belum sebanding dengan harga pupuk, obat-obatan, hingga upah tenaga kerja panen masih bertengger tinggi.
“Kami tanam butuh modal besar, rawat sampai 8 bulan capeknya bukan main. Tapi pas panen, harganya murah sekali. Seringkali setelah dikurangi semua biaya, yang masuk ke kantong tinggal sedikit, bahkan kadang cuma balik modal atau malah rugi,” keluh salah satu petani dengan nada lesu.
Mereka terjebak dalam situasi yang sangat sulit. Menjual, rasanya seperti merelakan hasil jerih payah hampir setahun dengan harga yang tidak masuk akal. Tapi jika tidak dijual, singkong akan membusuk di tanah dan modal pun hilang sia-sia.
Penderitaan petani belum selesai saat panen dibawa ke pabrik atau pengepul lapak – lapak. Di sinilah sering terjadi “kejutan” yang membuat hati mereka semakin perih.
Keluhan utama yang sering terdengar adalah soal timbangan dan potongan (refaksi). Petani menilai ada praktik kecurangan yang merugikan. Berat bersih yang seharusnya mereka terima seringkali berkurang drastis setelah ditimbang di pihak pembeli, dengan alasan kadar air, tanah, atau sampah yang dianggap terlalu banyak.
Belum lagi potongan atau refaksi yang nilainya sangat tinggi dan terasa tidak adil. Rasanya, hasil panen yang sudah dibawa dengan susah payah itu “dikurangi” haknya sebelum uang diterima. Padahal, bagi mereka setiap kilogram sangat berarti.
Ingin Ganti Tanaman, Tapi Modal Terkunci
Melihat nasib singkong yang semakin suram, tak sedikit petani yang berniat berpaling. Beralih menanam jagung atau padi terlihat lebih menjanjikan. Namun, harapan itu kembali pupus saat melihat hitungan di atas kertas.
Mengganti komoditas bukan perkara mudah. Menanam jagung atau padi membutuhkan biaya yang jauh lebih besar. Mulai dari benih yang lebih mahal, kebutuhan pupuk yang spesifik, hingga pengolahan lahan yang lebih intensif.
Sementara itu, kantong petani sudah menipis akibat harga singkong yang buruk. Meminjam modal pun menjadi pilihan yang menakutkan karena risikonya tinggi. Akhirnya, mereka terpaksa kembali menanam singkong meski tahu nasibnya mungkin akan sama menyedihkan bulan depan. Terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan.
Boleh jadi kami dianggap tak pandai berterimakasih atas segala upaya pemerintah untuk mendongkrak harga hingga sampai saat ini walaupun surat edaran jelas standar minimal harga pembelian Rp. 1.350 Rupiah dengan potongan maksimal 15 persen namun kenyataan delapan bulan adalah waktu yang cukup lama untuk menanti sebuah hasil. Bayangkan, selama hampir setahun mereka berkorban tenaga, pikiran, dan uang. Namun saat panen tiba, keuntungan yang didapat sangat tidak sebanding dengan pengorbanan tersebut.
Rasa lelah fisik mungkin bisa hilang dengan istirahat, tapi rasa kecewa melihat hasil panen yang “dimakan” oleh harga murah dan potongan yang tidak wajar, itu yang sulit diobati.
Mereka adalah pahlawan yang menyediakan bahan baku bagi industri, namun nasibnya sendiri masih jauh dari sejahtera. Hingga kapan mereka harus bertahan di tengah ketidakpastian ini? Hanya waktu dan kebijakan yang adil yang bisa menjawabnya. Sementara itu, mereka terus bertani, berharap suatu saat keadilan akan berpihak pada mereka. (**)
Catatan redaksi: penulis merupakan wartawan aktif yang ada di Kabupaten Lampung Utara sekaligus pimpinan umum media RNSI.
![]()
