BANDARLAMPUNG (RNSI) – BADKO HMI Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) memberikan perhatian terhadap program hilirisasi tebu, bagian dari agenda Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian, serta mendorong ekonomi berbasis sumber daya lokal.
Hilirisasi tebu adalah proses mengubah tebu menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti gula, bioetanol, energi biomassa, hingga pupuk organik. Program ini diharapkan memperpanjang rantai nilai, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan petani. Di Lampung, program berjalan di lahan seluas 27.819 hektare, meliputi Kabupaten Lampung Utara, Lampung Tengah, dan Way Kanan, dengan kegiatan perluasan lahan, peremajaan tanaman, hingga penguatan hubungan antara budidaya dan industri pengolahan.
Ketua Bidang Eksternal BADKO HMI Sumbagsel, Hendra Gustami, menekankan keberhasilan program tidak hanya dilihat dari luas lahan atau jumlah produksi, tapi juga manfaat nyata bagi petani. Pelaksanaannya harus transparan, akuntabel, dan berpihak pada masyarakat. Pihaknya akan melakukan pengawasan serta advokasi untuk memastikan bantuan tepat sasaran, anggaran digunakan dengan benar, dan program berkelanjutan.
Lampung menjadi salah satu daerah prioritas nasional pengembangan hilirisasi tebu. Sinergi antar pemerintah, industri, akademisi, dan kelompok tani dibutuhkan demi swasembada gula serta ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Program ini juga diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi baru melalui kawasan agroindustri terintegrasi.
Sementara itu, terkait masalah penyimpangan program bantuan perluasan lahan tebu di Lampung Utara, kasus telah dilaporkan ke KPK, Kejaksaan Agung, Kementerian Pertanian, dan Komisi IV DPR-RI.
Masyarakat berharap aparat hukum bertindak tegas agar bantuan pemerintah tidak lagi dimanfaatkan oknum untuk keuntungan pribadi. (Zani/red)
![]()
