Konsep “Dulce et Utile”: Membaca Hari Kebangkitan Nasional dalam Lensa Bahasa dan Sastra

Opini, Artikel, Sastra

ESAI

*) Heri Isnaini

Tanggal 20 Mei selalu dikenang sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Pada tanggal itu, bangsa Indonesia mulai menyadari bahwa perjuangan melawan penjajahan tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri berdasarkan identitas kedaerahan. Lahirnya Budi Utomo pada tahun 1908 menjadi penanda tumbuhnya kesadaran baru tentang pentingnya persatuan, pendidikan, dan identitas kebangsaan. Namun, kebangkitan nasional sesungguhnya bukan hanya kebangkitan politik. Ia juga merupakan kebangkitan bahasa, sastra, dan kebudayaan.

Bangsa yang besar tidak lahir hanya melalui perang dan perebutan kekuasaan, tetapi juga melalui bahasa yang mempersatukan dan sastra yang membangun kesadaran kolektif. Dalam konteks Indonesia, bahasa dan sastra memiliki peran penting dalam membentuk gagasan tentang “Indonesia” sebagai sebuah bangsa. Melalui bahasa, masyarakat Nusantara yang berbeda suku dan budaya dapat saling memahami. Melalui sastra, rakyat mulai membayangkan dirinya sebagai bagian dari satu identitas bersama.

Sebelum abad ke-20, masyarakat Nusantara lebih banyak hidup dalam ruang identitas lokal, seperti Sunda, Jawa, Minangkabau, Bugis, Batak, dan lain-lain. Namun, munculnya kesadaran nasional membutuhkan alat komunikasi yang dapat menjangkau seluruh wilayah. Di sinilah Bahasa Indonesia memiliki posisi yang sangat penting. Bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu berkembang menjadi bahasa persatuan yang melampaui batas etnis dan daerah.

Peristiwa Sumpah Pemuda memperlihatkan bahwa bahasa menjadi fondasi kebangsaan. Ketika para pemuda mengikrarkan “Kami menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia,” mereka sebenarnya sedang membangun rumah bersama bagi seluruh rakyat Indonesia. Bahasa bukan lagi sekadar alat komunikasi, tetapi simbol identitas dan perlawanan terhadap kolonialisme.

Di sisi lain, sastra menjadi ruang tempat bangsa Indonesia mulai menuliskan dirinya sendiri. Sastra Indonesia modern lahir bersamaan dengan tumbuhnya kesadaran nasional. Karya-karya sastra pada masa itu tidak lagi hanya berbicara tentang dunia istana atau kisah-kisah tradisional, tetapi mulai membahas persoalan sosial, pendidikan, kemiskinan, ketidakadilan, dan semangat kebangsaan.

Baca Juga :  Kisah Dibalik 40 Hektare Tanah Persiapan Kabupaten Sungkai Bungamayang: Jejak Kedermawanan dari Tanah Kelahiran  

Novel-novel seperti “Azab dan Sengsara” karya Merari Siregar dan “Sitti Nurbaya” karya Marah Rusli menjadi contoh bagaimana sastra digunakan untuk mengkritik persoalan masyarakat. Karya-karya tersebut membicarakan kawin paksa, konflik adat, dan keterbelakangan sosial. Sastra hadir sebagai suara yang menggugat kenyataan.

Dalam konteks ini, konsep “dulce et utile” dari Horace menjadi sangat relevan. Menurut Horace, sastra yang baik harus mengandung dua unsur sekaligus: “dulce” yang berarti indah atau menyenangkan, serta “utile” yang berarti berguna atau memberi manfaat. Sastra bukan hanya tentang keindahan bahasa, tetapi juga tentang nilai dan pendidikan bagi kehidupan manusia.

Sastra Indonesia pada masa kebangkitan nasional menunjukkan kedua fungsi tersebut secara bersamaan. Dari sisi “dulce”, karya sastra menghadirkan estetika bahasa, kekuatan cerita, dan pengalaman emosional yang menyentuh pembaca. Novel-novel Balai Pustaka mampu membuat pembaca larut dalam konflik batin tokohnya. Puisi-puisi Pujangga Baru menghadirkan bahasa yang kuat, padat, dan penuh energi kehidupan.

Namun, keindahan itu tidak berhenti sebagai hiburan. Sastra juga menjalankan fungsi “utile”. Karya sastra menjadi sarana pendidikan sosial dan kebangsaan. Pembaca diajak memahami ketidakadilan, melihat penderitaan masyarakat, serta menyadari pentingnya kebebasan dan kemerdekaan. Sastra menjadi alat perjuangan simbolik yang bekerja melalui kesadaran dan imajinasi.

Pada masa penjajahan, perlawanan tidak hanya dilakukan dengan senjata, tetapi juga dengan tulisan. Surat kabar, puisi, esai, dan novel menjadi media penyebaran gagasan nasionalisme. Para sastrawan dan intelektual memahami bahwa penjajahan bukan hanya persoalan fisik, melainkan juga persoalan mental dan budaya. Karena itu, membangun kesadaran masyarakat melalui bahasa dan sastra menjadi bagian penting dari perjuangan nasional.

Dalam perspektif yang lebih luas, Hari Kebangkitan Nasional sebenarnya merupakan kebangkitan narasi. Bangsa Indonesia mulai berbicara dengan suaranya sendiri. Dari yang sebelumnya hanya menjadi objek cerita kolonial, rakyat Indonesia perlahan menjadi subjek yang menuliskan sejarah dan identitasnya sendiri. Bahasa dan sastra menjadi ruang untuk membangun harga diri bangsa.

Baca Juga :  Nasib Pers di Tangan Komisi Informasi

Semangat “dulce et utile” dalam sastra Indonesia tetap relevan hingga hari ini. Di era digital, masyarakat hidup di tengah arus informasi dan hiburan yang sangat cepat. Sastra sering dianggap kalah menarik dibandingkan media visual dan konten instan. Padahal, sastra memiliki kekuatan yang tidak dimiliki media lain: kemampuan membangun empati, refleksi, dan kedalaman berpikir.

Karena itu, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia perlu dipahami bukan sekadar pelajaran akademik, melainkan proses pembentukan manusia. Sastra membantu manusia memahami kehidupan, mengenali penderitaan orang lain, serta membangun kesadaran moral dan sosial. Ketika seseorang membaca puisi, cerpen, atau novel, ia sebenarnya sedang belajar menjadi manusia yang lebih peka.

Hari Kebangkitan Nasional mengajarkan bahwa kebangkitan bangsa tidak pernah terlepas dari bahasa dan sastra. Dari bahasa lahir persatuan, dan dari sastra lahir kesadaran kemanusiaan. Dalam kerangka “dulce et utile”, sastra Indonesia sejak masa pergerakan nasional telah memperlihatkan dirinya sebagai karya yang indah sekaligus berguna, seperti menghibur hati, mencerdaskan pikiran, dan membangkitkan bangsa. (**)

Bionarasi Penulis

Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

Loading