Dugaan Praktik Pemerasan di Lapas Kotabumi, Ardiansyah: Tamparan Keras bagi Dunia Hukum dan Pemasyarakatan

Lampung Utara

LAMPUNG UTARA (RNSI) – Matahari bersinar terik, membakar aspal jalanan yang mulai meleleh. Suhu udara terasa begitu menyengat kulit, seolah ingin menguras seluruh keringat yang ada di tubuh. Namun, di tengah gempuran panas siang bolong ini, kami memilih untuk duduk santai di sebuah warung kopi pinggir jalan.

Di sebelah kami, lalu lintas tak henti-henti berderai. Klakson kendaraan bersahutan, debu beterbangan, dan deru mesin menjadi musik latar yang tak pernah sunyi. Di tengah keramaian dan hiruk-pikuk dunia yang terus berjalan cepat itulah, Ardiansyah dan saya duduk berhadapan, dengan dua cangkir kopi pahit yang mengepul di meja kayu sederhana.

“Lihat tuh, jalanan rame banget, panas lagi. Tapi kita tetep bisa tenang nikmati kopi. Apalagi panasnya berita-berita di media online yang kita baca, dimana penghuni Lapas sudah menjadi pesakitan namun masih jadi ‘sapi perahan’, itu juga kalo bener sih,” seloroh Ardiansyah sambil menunjuk jalanan yang padat merayap.

Benar saja, secangkir kopi pahit ini menjadi penawar dahaga yang paling pas. Kami berdiskusi santai tentang atmosfer Lampung Utara yang semakin panas, bukan hanya soal cuaca, tapi juga suhu berbagai kasus yang sedang mencuat ke permukaan.

Pilihan lawan bicara saya cukup pas rasanya, karena Ardiansyah bukan sekadar sahabat bercanda, melainkan penggiat Pers di Kabupaten Tunas Ragem Lampura. Rasanya kopi yang getir di lidah justru sebanding lurus dengan kerasnya kehidupan yang kami jalani. Sama seperti cuaca siang ini yang terik dan melelahkan, hidup pun tak selalu memberikan kenyamanan dan kesegaran. Seringkali terasa panas, membakar semangat, dan membuat lelah.

Tapi kami belajar satu hal: panasnya matahari tak akan memadamkan api semangat, dan ramainya lalu lintas tak akan membuat kami kehilangan arah.

Baca Juga :  Jelang Hari Raya Idul Fitri, Kapolres Lampura Bersama Forkopimda Pantau Stok Pangan di Pasar

“Kopi ini pahit, tapi bikin sadar. Hidup kita juga gitu, nggak selalunya manis kayak gula. Ada kalanya kita harus ngerasain getir, ngerasain capek, kayak panasnya siang hari ini. Atau begitulah lelahnya suara kebenaran yang tak selalu disambut baik oleh pihak terkait,” tambah Ardiansyah lagi, seraya menyeruput kopinya perlahan.

Berbicara soal kebenaran, isu yang beredar mengenai praktik pemerasan di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) tentu menjadi tamparan keras bagi dunia hukum dan pemasyarakatan. Jika dugaan bahwa narapidana masih diperas sebagai objek penderita itu benar, maka ini adalah aib besar yang harus segera diselesaikan.

Oleh karena itu, kami berharap adanya langkah nyata berupa Pemeriksaan Internal yang serius dan transparan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

Pemeriksaan ini mutlak diperlukan untuk:

– Mengungkap fakta yang sebenarnya di balik layar penjara.

– Menindak tegas oknum yang bermain kotor dan memanfaatkan jabatan.

– Memberikan rasa keadilan, tidak hanya bagi masyarakat luar, tapi juga bagi para tahanan yang seharusnya menjalani hukuman, bukan menjadi korban perpanjangan.

– Dan yang paling utama, mengembalikan kepercayaan publik yang kini mulai goyah terhadap institusi negara.

Suara truk dan mobil yang lewat terus memekakkan telinga, debu jalanan pun sesekali menerpa wajah. Tapi itu semua justru menjadi bukti nyata bahwa dunia tidak berhenti berputar. Masalah datang silih berganti, kesulitan hadir bagaikan terik yang menyengat, namun selama kebenaran masih diperjuangkan dan hukum ditegakkan, berarti masih ada harapan.

Panasnya siang ini akan berlalu, digantikan oleh teduhnya malam. Begitu pula dengan hidup, pahit dan susahnya hari ini, adalah proses menuju manisnya keadilan dan kebenaran di kemudian hari.

Baca Juga :  Polres Lampura Amankan Silaturahmi Keluarga Besar Muhammadiyah Kotabumi

Kami tak meminta hidup menjadi teduh dan sejuk selamanya, kami hanya meminta hati yang kuat untuk tetap tenang, meski di tengah panasnya cobaan dan ramainya masalah. (Riki Purnama)

Loading