Reposisi Pembelajaran Kolaboratif di Era Kecerdasan Artifisial

Opini, Artikel, Sastra

ESAI

*) Heri Isnaini

Suatu hari, seorang guru memberikan tugas kepada peserta didiknya untuk menulis esai.

Jika beberapa tahun lalu siswa harus mencari referensi dari buku, artikel, atau berdiskusi dengan teman-temannya, hari ini situasinya berbeda. Dalam hitungan detik, mereka dapat membuka berbagai aplikasi berbasis kecerdasan artifisial dan memperoleh ide, kerangka tulisan, ringkasan teori, bahkan draf awal yang tampak cukup meyakinkan.

Fenomena ini memunculkan beragam respons. Sebagian guru merasa khawatir. Sebagian melihatnya sebagai ancaman terhadap kreativitas dan kejujuran akademik. Sebagian lainnya justru melihat peluang baru dalam dunia pendidikan.

Di tengah berbagai respons tersebut, ada satu pertanyaan yang menarik untuk diajukan: apakah kehadiran kecerdasan artifisial akan mengubah makna kolaborasi dalam pembelajaran? Selama ini, ketika berbicara tentang pembelajaran kolaboratif, yang terbayang biasanya adalah sekelompok siswa yang bekerja bersama untuk menyelesaikan sebuah tugas. Mereka berdiskusi, bertukar pendapat, berbagi informasi, dan membangun pemahaman secara kolektif. Kolaborasi dipahami sebagai interaksi antarmanusia yang memungkinkan terjadinya proses belajar yang lebih kaya daripada belajar secara individual.

Namun hari ini, ruang belajar telah berubah. Ketika seorang siswa mengerjakan tugas, ia tidak hanya berinteraksi dengan teman-temannya. Ia juga dapat berdialog dengan sistem kecerdasan artifisial. Ia dapat mengajukan pertanyaan, meminta penjelasan, memperoleh umpan balik, bahkan melakukan simulasi diskusi dengan mesin yang mampu merespons secara cepat.

Di sinilah pembelajaran memasuki wilayah yang belum pernah kita alami sebelumnya. Jika dahulu kolaborasi hampir selalu berarti manusia bekerja bersama manusia, kini muncul kemungkinan baru, yaitu manusia bekerja bersama mesin. Pertanyaan yang kemudian muncul bukanlah apakah kecerdasan artifisial akan menggantikan guru atau menggantikan siswa. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana kecerdasan artifisial mengubah pola hubungan dalam proses belajar.

Dalam berbagai diskusi publik, kecerdasan artifisial sering ditempatkan sebagai ancaman. Narasi yang muncul biasanya berkisar pada kemungkinan hilangnya peran guru atau berkurangnya kemampuan berpikir peserta didik. Namun jika dicermati lebih jauh, kecerdasan artifisial sesungguhnya tidak memiliki tujuan, nilai, atau kesadaran sebagaimana manusia.

Baca Juga :  NOSTALGIA

AI dapat menghasilkan jawaban, tetapi ia tidak memiliki pengalaman hidup. AI dapat mengolah informasi, tetapi ia tidak memiliki kebijaksanaan. AI dapat menyusun teks, tetapi ia tidak memiliki tanggung jawab moral atas teks tersebut.

Sebab itu, peran guru tetap tidak tergantikan. Pemikiran Lev Vygotsky memberikan perspektif yang menarik untuk memahami situasi ini. Menurut Vygotsky, belajar merupakan proses sosial yang berlangsung melalui interaksi. Pengetahuan berkembang ketika seseorang berinteraksi dengan pihak lain yang membantu memperluas zona perkembangan dirinya atau “zone of proximal development.”

Selama ini, peran tersebut dijalankan oleh guru, orang tua, atau teman sebaya. Kini, sebagian fungsi pendampingan itu dapat dilakukan oleh kecerdasan artifisial. AI dapat membantu menjelaskan konsep yang sulit, memberikan contoh tambahan, atau menyediakan berbagai alternatif pemecahan masalah.

Namun, bantuan tersebut tetap berbeda dengan pendampingan manusia. Seorang guru tidak hanya menjelaskan materi. Ia memahami konteks peserta didiknya. Ia mengenali kesulitan, karakter, emosi, dan kebutuhan belajar yang unik pada setiap individu. Ia tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi juga membimbing pembentukan nilai dan karakter.

Sebab itu, AI mungkin dapat menjadi mitra belajar, tetapi ia tidak dapat menggantikan hubungan pedagogis yang menjadi inti pendidikan. Hal yang sama berlaku bagi peserta didik. Ada kekhawatiran bahwa siswa akan menjadi pasif karena terlalu bergantung pada kecerdasan artifisial. Kekhawatiran ini tidak sepenuhnya keliru. Namun, masalahnya bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada cara teknologi digunakan.

Sejarah menunjukkan bahwa setiap teknologi baru selalu memunculkan kekhawatiran serupa. Ketika mesin cetak ditemukan, orang khawatir kemampuan menghafal manusia akan menurun. Ketika kalkulator digunakan di sekolah, muncul kekhawatiran bahwa siswa tidak lagi mampu berhitung. Ketika internet berkembang, banyak yang menganggap kemampuan membaca mendalam akan hilang.

Sebagian kekhawatiran itu terbukti benar, sebagian lainnya tidak. Yang pasti, teknologi selalu mengubah cara manusia belajar. Marshall McLuhan pernah mengemukakan bahwa setiap medium baru akan mengubah cara manusia memahami dunia. Jika kita mengikuti logika McLuhan, maka kecerdasan artifisial bukan sekadar alat baru. Ia adalah medium baru yang sedang mengubah ekologi pembelajaran.

Baca Juga :  Pendataan Memang Bukan Pendaftaran

Dalam konteks ini, pertanyaannya bukan lagi apakah siswa boleh menggunakan AI atau tidak. Pertanyaan yang lebih relevan adalah bagaimana membangun bentuk kolaborasi baru yang memungkinkan manusia dan teknologi bekerja secara produktif.

Pembelajaran kolaboratif pada abad ke-21 mungkin tidak lagi hanya melibatkan siswa dengan siswa atau siswa dengan guru. Ia berkembang menjadi ekosistem kolaboratif yang lebih kompleks.

Bayangkan sebuah kelompok siswa yang sedang mengerjakan proyek tentang cerita rakyat Nusantara. Mereka berdiskusi untuk menentukan fokus kajian. Mereka mencari data dari berbagai sumber. Mereka memanfaatkan AI untuk memperoleh referensi tambahan, membandingkan interpretasi, atau menyusun kerangka analisis. Namun keputusan akhir tetap lahir dari proses dialog, refleksi, dan pertimbangan kritis yang dilakukan oleh manusia.

Dalam situasi semacam itu, AI tidak menggantikan kolaborasi antarmanusia. AI justru memperluas kemungkinan kolaborasi. Pandangan ini sejalan dengan teori connectivism yang dikembangkan oleh George Siemens. Siemens berpendapat bahwa belajar pada era digital tidak lagi hanya berlangsung di dalam diri individu, tetapi juga melalui jaringan yang menghubungkan manusia, informasi, dan teknologi.

Pengetahuan tidak lagi tersimpan hanya di dalam kepala seseorang. Pengetahuan tersebar dalam jaringan. Sebab itu, kemampuan yang penting bukan sekadar mengingat informasi, melainkan mengetahui bagaimana menemukan, mengevaluasi, dan menghubungkan informasi tersebut.

Dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia, perubahan ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Peserta didik dapat menggunakan AI untuk memperoleh informasi tentang sebuah teks, membandingkan interpretasi sastra, atau mendapatkan umpan balik terhadap tulisan yang mereka buat. Namun mereka juga perlu belajar mempertanyakan hasil yang diberikan AI. Mereka perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, literasi informasi, dan kesadaran etis.

Di sinilah peran guru menjadi semakin penting. Paradoksnya, semakin canggih teknologi yang digunakan, semakin besar kebutuhan akan kemampuan-kemampuan yang sangat manusiawi: berpikir kritis, berempati, bekerja sama, mempertimbangkan nilai-nilai moral, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

Baca Juga :  Ratusan Ribu Pelamar Manajer KDMP, Potret Buramnya Mencari Kerja di Indonesia

Kemampuan-kemampuan tersebut tidak dapat diotomatisasi. Ia tumbuh melalui interaksi sosial, dialog, dan pengalaman hidup. Sebab itu, masa depan pembelajaran kolaboratif bukanlah masa depan tanpa guru atau tanpa peserta didik. Masa depan tersebut juga bukan sekadar masa depan yang dipenuhi mesin pintar.

Masa depan pembelajaran adalah masa depan kolaborasi yang lebih luas dan lebih kompleks. Guru berkolaborasi dengan teknologi. Siswa berkolaborasi dengan teknologi. Siswa berkolaborasi dengan siswa lainnya. Dan yang terpenting, manusia tetap belajar bersama manusia.

Pada akhirnya, kecerdasan artifisial tidak menghapus kebutuhan manusia akan kolaborasi. Sebaliknya, ia justru memaksa kita untuk mendefinisikan ulang apa yang dimaksud dengan kolaborasi itu sendiri. Jika dahulu pertanyaannya adalah bagaimana manusia belajar bersama manusia, maka hari ini kita mulai berhadapan dengan pertanyaan yang lebih besar, yakni bagaimana manusia tetap menjadi manusia ketika ia belajar bersama mesin?

Pertanyaan itu mungkin belum memiliki jawaban yang sepenuhnya pasti. Namun, satu hal tampaknya jelas. Pendidikan masa depan tidak akan ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang kita gunakan, melainkan oleh seberapa bijaksana kita membangun hubungan antara manusia, pengetahuan, dan teknologi. Dan dalam hubungan itulah kolaborasi menemukan maknanya yang baru. (**)

Bionarasi Penulis

*) Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

Loading