OPINI
*) Heri Isnaini
Setiap musim ujian tiba, ada kegelisahan yang selalu datang menghampiri saya.
Ketika menjadi guru, saya membaca lembar jawaban siswa dan menemukan banyak pertanyaan yang tidak terjawab atau dijawab dengan keliru. Ketika menjadi dosen, saya duduk di ruang sidang dan berhadapan dengan mahasiswa yang tampak kesulitan menjelaskan konsep-konsep mendasar yang sebenarnya telah lama mereka pelajari.
Pada saat-saat seperti itu, pikiran saya sering dipenuhi berbagai pertanyaan. Mengapa mereka tidak mampu menjawab? Bukankah materi itu telah dibahas berulang kali di kelas? Bukankah mereka telah mengikuti proses pembelajaran selama bertahun-tahun? Bukankah buku-buku yang relevan sudah saya rekomendasikan untuk dibaca?
Sebagai pendidik, saya mengakui bahwa kekecewaan semacam itu sering muncul. Ada harapan bahwa proses panjang yang telah dilalui bersama akan bermuara pada pemahaman yang memadai. Kadang-kadang muncul pertanyaan yang lebih keras. “Selama ini mereka belajar apa?”
Saya kira pertanyaan semacam itu wajar. Bahkan mungkin manusiawi. Kita telah menghabiskan waktu untuk menyiapkan bahan ajar, membuat presentasi, memeriksa tugas, memberi umpan balik, hingga mendampingi mereka dalam proses belajar. Maka ketika hasilnya tidak sesuai harapan, kekecewaan menjadi sesuatu yang sulit dihindari.
Namun, beberapa waktu terakhir saya mulai menyadari sesuatu. Mungkin pertanyaan itu salah alamat. Mungkin pertanyaan yang seharusnya diajukan bukanlah “Mengapa mereka tidak belajar?”, melainkan “Selama ini saya mengajarkan apa?” Pertanyaan itu mungkin terasa tidak nyaman. Ia seperti cermin yang tiba-tiba dipasang di depan wajah sendiri.
Selama bertahun-tahun, pendidikan sering dipahami sebagai aktivitas mengajar. Guru mengajar. Dosen mengajar. Murid mendengarkan. Mahasiswa mencatat. Setelah itu dilakukan evaluasi untuk melihat seberapa banyak pengetahuan yang berhasil dipindahkan. Logikanya sederhana. Jika guru sudah mengajar, berarti siswa seharusnya sudah belajar.
Akan tetapi kenyataan tidak selalu demikian. Mengajar dan belajar ternyata bukan dua hal yang otomatis berjalan bersamaan. Seseorang bisa mengajar selama dua jam tanpa menghasilkan pembelajaran yang bermakna. Sebaliknya, seseorang bisa belajar banyak hanya dari satu pertanyaan sederhana yang membuat pikirannya terguncang.
Di sinilah saya mulai memahami bahwa mengajar bukanlah tujuan. Mengajar hanyalah sarana. Tujuan sebenarnya adalah belajar. Kesadaran ini mengingatkan saya pada pemikiran John Hattie yang melalui riset pendidikan berskala besar menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak diukur dari seberapa baik guru menyampaikan materi, melainkan dari seberapa besar dampaknya terhadap proses belajar siswa. Guru sering kali merasa telah berhasil karena sudah menjelaskan dengan rinci. Padahal, penjelasan yang baik belum tentu menghasilkan pemahaman yang baik.
Dengan kata lain, masalah pendidikan bukan terletak pada seberapa banyak guru mengajar, tetapi pada seberapa banyak siswa belajar. Masalahnya, selama ini mungkin saya terlalu sibuk mengajar. Saya sibuk menjelaskan. Saya sibuk menyampaikan materi. Saya sibuk mengejar target kurikulum. Saya sibuk memastikan seluruh salindia presentasi selesai dipaparkan. Namun, saya lupa memeriksa satu hal yang paling penting. Apakah mereka benar-benar sedang belajar?
Ketika siswa gagal menjawab soal, saya sering menganggap mereka tidak belajar. Padahal bisa jadi mereka memang belajar, tetapi belajar sesuatu yang berbeda dari yang saya harapkan. Mereka belajar menghafal. Mereka belajar menebak. Mereka belajar mencari pola soal. Mereka belajar mendapatkan nilai. Tetapi mungkin mereka tidak belajar memahami. Mungkin mereka tidak belajar berpikir. Mungkin mereka tidak belajar menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata.
Di titik ini saya teringat kritik Paulo Freire terhadap apa yang disebutnya sebagai “banking education” atau pendidikan gaya bank. Dalam model ini, guru diposisikan sebagai pemilik pengetahuan, sedangkan siswa hanyalah tempat penyimpanan yang harus diisi. Pengetahuan dianggap seperti uang yang disetor ke rekening. Semakin banyak yang disetor, semakin berhasil proses pendidikan.
Sayangnya, manusia bukan rekening bank. Murid bukan gudang penyimpanan informasi. Pengetahuan yang hanya disimpan tanpa dipahami akhirnya tidak menjadi bagian dari kehidupan. Barangkali itulah yang sering kita lihat di ruang-ruang kelas dan ruang sidang. Siswa mampu menghafal definisi, tetapi tidak mampu menjelaskan maknanya. Mahasiswa mampu mengutip teori, tetapi tidak mampu menerapkannya untuk membaca realitas.
Pengalaman menguji mahasiswa skripsi menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Tidak jarang mahasiswa mampu menjelaskan hal-hal yang rumit dalam skripsinya, tetapi kesulitan menjawab pertanyaan yang sangat mendasar. Mereka mampu menyebutkan teori. Mereka mampu mengutip ahli. Mereka mampu menuliskan puluhan halaman kajian pustaka. Namun, ketika ditanya mengapa teori itu dipilih, apa relevansinya, atau apa makna temuan penelitian mereka, jawaban yang muncul sering kali tidak memuaskan.
Dulu saya menganggap itu sebagai bukti bahwa mahasiswa kurang belajar. Sekarang saya tidak lagi sesederhana itu dalam mengambil kesimpulan. Saya mulai bertanya, “Apakah selama ini proses pembelajaran yang saya lakukan memang mendorong mereka untuk berpikir sampai ke tingkat pemahaman yang mendalam?” Atau jangan-jangan saya sendiri terlalu sering memberi mereka jawaban sebelum mereka sempat menemukan pertanyaan?
Pertanyaan itu semakin penting jika kita mengingat pandangan Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Keduanya menjelaskan bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari kepala guru ke kepala siswa. Pengetahuan harus dibangun melalui pengalaman, interaksi, dan proses berpikir yang dilakukan oleh siswa itu sendiri. Artinya, ketika saya berbicara selama dua jam di depan kelas, belum tentu terjadi pembelajaran. Yang pasti terjadi hanyalah saya berbicara selama dua jam. Belajar baru terjadi ketika siswa membangun pemahamannya sendiri.
Dalam dunia pendidikan modern, mulai muncul kesadaran bahwa ukuran keberhasilan pembelajaran bukanlah seberapa banyak materi yang disampaikan guru, melainkan seberapa jauh peserta didik mengalami perubahan cara berpikir. Guru yang baik bukanlah guru yang berbicara paling banyak. Guru yang baik adalah guru yang mampu membuat murid berpikir paling banyak.
Dosen yang baik bukanlah dosen yang menguasai seluruh isi buku. Dosen yang baik adalah dosen yang mampu menyalakan rasa ingin tahu mahasiswa. Sebab pengetahuan dapat dilupakan. Catatan kuliah dapat hilang. Salindia presentasi dapat ditutup. Namun, rasa ingin tahu yang tumbuh akan membuat seseorang terus belajar bahkan ketika guru sudah tidak ada di hadapannya.
Dalam konteks ini, saya sering teringat pada Taksonomi Bloom. Selama ini mungkin kita terlalu cepat berharap siswa mampu menganalisis, mengevaluasi, bahkan mencipta, padahal fondasi pemahamannya belum benar-benar kokoh. Kita meminta mereka berpikir pada tingkat tinggi sebelum memastikan bahwa mereka sungguh-sungguh memahami apa yang dipelajari.
Akibatnya, ketika muncul pertanyaan mendasar, mereka tidak mampu menjawab. Bukan karena tidak memiliki kecerdasan, melainkan karena proses belajar mereka belum mencapai kedalaman yang dibutuhkan.
Sebagai pengajar bahasa dan sastra, saya menemukan perspektif yang menarik dari Halliday. Menurutnya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan alat untuk membangun makna. Belajar pada dasarnya adalah proses memperluas kemampuan seseorang dalam memaknai dunia.
Jika demikian, maka pembelajaran yang berhasil bukanlah pembelajaran yang menghasilkan hafalan paling banyak. Pembelajaran yang berhasil adalah pembelajaran yang menghasilkan makna paling dalam.
Seorang mahasiswa mungkin mampu menghafal puluhan teori sastra, tetapi jika teori-teori itu tidak membantunya memahami kehidupan, maka sesungguhnya ia belum belajar dalam arti yang sesungguhnya. Ia mengetahui, tetapi belum memaknai. Ia mengingat, tetapi belum memahami.
Saya teringat pada banyak peristiwa di kelas. Ada siswa yang tidak mampu menjawab pertanyaan saat pelajaran berlangsung, tetapi beberapa hari kemudian datang membawa pemikiran yang jauh lebih matang. Ada mahasiswa yang nilainya biasa-biasa saja, tetapi bertahun-tahun kemudian menjadi pembelajar yang luar biasa.
Sebaliknya, ada pula mereka yang memperoleh nilai tinggi, tetapi berhenti belajar setelah ujian selesai. Pengalaman-pengalaman itu mengajarkan bahwa belajar adalah proses yang jauh lebih kompleks daripada sekadar menjawab soal dengan benar. Belajar adalah perubahan. Belajar adalah pertumbuhan. Belajar adalah kemampuan melihat dunia dengan cara yang berbeda dibandingkan sebelumnya.
Inilah yang sekarang banyak disebut sebagai “deep learning” atau pembelajaran mendalam. Ukuran keberhasilannya bukan sekadar nilai, melainkan perubahan cara berpikir, kemampuan menghubungkan pengetahuan dengan situasi baru, dan kesanggupan memahami makna di balik informasi. Jika demikian, tugas guru sebenarnya bukan mengisi kepala siswa dengan informasi. Tugas guru adalah membantu mereka membangun cara berpikir. Tugas guru adalah menciptakan kondisi agar belajar dapat terjadi.
Hari ini saya masih merasa kecewa ketika menemukan siswa atau mahasiswa tidak mampu menjawab pertanyaan mendasar. Namun, kekecewaan itu kini terasa berbeda. Ia tidak lagi hanya mengarah kepada mereka. Ia juga mengarah kepada diri saya sendiri.
Saya mulai belajar menerima bahwa kegagalan siswa menjawab pertanyaan bukan semata-mata cermin kemampuan mereka. Dalam batas tertentu, ia juga merupakan cermin dari proses pembelajaran yang saya bangun. Mungkin selama ini saya terlalu fokus pada aktivitas mengajar. Mungkin saya terlalu bangga karena telah menyampaikan seluruh materi. Mungkin saya terlalu sibuk berbicara sehingga lupa mendengarkan. Mungkin saya terlalu sering memberi tahu sehingga lupa memberi kesempatan untuk menemukan.
Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan tentang seberapa banyak guru mengajar. Pendidikan adalah tentang seberapa banyak siswa belajar. Dan kadang-kadang, lembar jawaban yang kosong bukan hanya sedang menguji siswa. Ia juga sedang menguji guru.
Pertanyaan yang semula kita tujukan kepada mereka perlahan berbalik kepada diri sendiri. “Selama ini mereka belajar apa?” Lalu muncul pertanyaan yang jauh lebih sunyi, jauh lebih sulit, dan jauh lebih jujur. “Selama ini saya sebenarnya mengajarkan apa?” Atau mungkin pertanyaan yang lebih mendasar lagi, “Apakah selama ini saya sungguh-sungguh membuat mereka belajar?” (**)
Bionarasi Penulis
*) Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.
![]()
