Belajar dari Socrates: “Saya Tidak Lebih Tahu dari Anda”

Opini, Artikel, Sastra

ESAI

*) Sary Sukawati

Berapa banyak dari kita yang memahami bahwa “tidak tahu” tidak selalu berarti benar-benar tidak tahu apa-apa?

Menariknya, justru banyak orang yang memiliki pengetahuan tinggi sering mengatakan dirinya tidak tahu apa-apa. Sebaliknya, di sekitar kita, tidak sedikit orang yang selalu merasa paling tahu, padahal yang diketahuinya mungkin terbatas.

Suatu ketika saya membaca sebuah buku tentang pemikiran filsuf Yunani, Socrates. Saya cukup terkaget-kaget ketika menemukan pernyataannya yang terkenal: “Saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa.” Lebih mengejutkan lagi, Socrates justru menganggap bahwa kesadaran seperti itu adalah tanda kebijaksanaan.

Awalnya saya benar-benar bingung. Bagaimana mungkin seseorang yang mengaku tidak tahu apa-apa justru disebut bijak? Bukankah orang bijak seharusnya berada di tingkat tertinggi dalam pengetahuan dan pengalaman hidup?

Namun, setelah dipikir lebih dalam, ternyata tidak semua orang yang berpengetahuan tinggi otomatis menjadi bijak. Orang pintar banyak. Orang bergelar tinggi juga banyak. Tetapi orang yang benar-benar bijak mungkin tidak sebanyak itu.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan beberapa tipe orang. Ada orang yang ilmunya tinggi dan sikapnya juga bijak, meskipun jumlahnya mungkin sedikit. Ada juga orang yang ilmunya tinggi, tetapi sikapnya justru suka meremehkan orang lain dan merasa paling benar. Tipe seperti ini mungkin lebih sering kita temui. Ada pula orang yang tidak banyak pengetahuan dan tidak bijak dalam bersikap.

Foto: Sary Sukawati.

Lalu muncul pertanyaan yang menarik: mungkinkah ada seseorang yang terlihat sederhana, tidak banyak bicara soal ilmunya, bahkan sering mengatakan dirinya “tidak tahu”, tetapi sebenarnya justru memiliki kebijaksanaan yang lebih dalam?

Di sinilah saya mulai memahami maksud Socrates. “Tidak tahu” yang dimaksud ternyata bukan berarti kosong ilmu atau tidak memiliki jawaban sama sekali. Justru sebaliknya, itu adalah kesadaran bahwa pengetahuan manusia selalu terbatas. Semakin seseorang belajar, semakin ia sadar bahwa masih banyak hal yang belum ia pahami.

Baca Juga :  Kesalahan Administrasi Pada Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Utara Bisa Berujung Pidana Korupsi!

Dalam psikologi modern, kondisi seperti ini cukup masuk akal. Ada fenomena yang dikenal sebagai Dunning-Kruger Effect, yaitu keadaan ketika seseorang yang pengetahuannya masih terbatas justru merasa dirinya paling benar. Sebaliknya, orang yang benar-benar banyak belajar biasanya lebih hati-hati dalam berbicara dan menyimpulkan sesuatu. Ia sadar bahwa setiap persoalan hampir selalu memiliki sudut pandang yang lebih luas. Karena itu, ada perbedaan besar antara orang yang benar-benar tidak tahu dengan orang yang memilih mengatakan, “Maaf, saya tidak tahu,” atau “Saya pikir Anda lebih tahu dari saya.” Kalimat seperti ini sering kali bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan berpikir.

Ada situasi tertentu ketika seseorang sebenarnya memahami persoalan yang sedang dibahas, tetapi ia tetap memilih merendahkan dirinya di hadapan lawan bicara. Ia tidak sedang kehilangan jawaban. Ia sedang menunjukkan bagaimana cara menyikapi diskusi dengan bijak. Di sana ada nilai menghormati lawan bicara, menjaga suasana diskusi tetap nyaman, serta membuka ruang agar pendapat lain dapat tumbuh. Diskusi tidak lagi menjadi ajang menunjukkan siapa yang paling pintar, tetapi menjadi ruang bersama untuk menemukan kemungkinan pemikiran terbaik.

Orang seperti ini biasanya memiliki cakrawala berpikir yang luas, pengalaman yang panjang, dan intuisi yang matang. Cara berpikirnya sudah melampaui kebutuhan untuk sekadar ingin didengar atau dianggap paling hebat. Ia justru ingin orang yang berdiskusi dengannya berkembang menjadi lebih baik dan lebih cerdas.

Bayangkan jika pola pikir seperti ini hadir lebih banyak di ruang-ruang pendidikan. Sebagai seorang dosen, saya merasa perlu banyak belajar dari cara pandang seperti ini. Kadang-kadang, tanpa sadar, seorang pengajar terlalu sibuk memberikan jawaban sampai lupa membuka ruang berpikir bagi mahasiswanya. Padahal, dari satu pertanyaan sederhana, bisa lahir seribu kemungkinan solusi ketika diskusi dibangun dengan nyaman dan terbuka.

Baca Juga :  Sastra dan Ruang-Ruang Imajinasi

Mungkin kuncinya memang sederhana: jangan merasa paling tahu segalanya. Belajar untuk mengatakan, “Saya pikir Anda lebih tahu.” Kalimat itu mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar. Ia dapat membuat orang lain merasa dihargai, membuat diskusi lebih hidup, dan membuka kemungkinan pemikiran yang jauh lebih luas.

Mungkin itulah pelajaran paling penting dari Socrates. Kebijaksanaan bukan tentang siapa yang memiliki semua jawaban, tetapi tentang siapa yang cukup rendah hati untuk terus belajar. Sebab sering kali, orang yang benar-benar bijak bukanlah yang paling banyak bicara, melainkan yang paling siap mengatakan, “Saya tidak lebih tahu dari Anda.”

Penulis

*) Sary Sukawati adalah dosen IKIP Siliwangi yang saat ini tengah melanjutkan kuliah di UPI Bandung pada Program Studi (S3) Pendidikan Bahasa Indonesia. Lahir di Bandung tahun 1983 dan menjadi dosen adalah pilihan hidupnya. Aktivitas pengajaran, penelitian, dan pengabdian kerap menemani hari-harinya. Kegiatan berkarya, berbagi ilmu, dan bercengkarama di ruang akademik telah melengkapi kegiatan utamanya sebagai istri dan ibu dari tiga buah hati (KaRara, Teh Rena, dan De’ Eza). Motto hidupnya saat ini “bersyukur, bergerak, dan bermanfaat”. Surel: sarysukawati@gmail.com 

Loading